Gondokusuman, suarapasar.com – Pemerintah Kota Yogyakarta menggencarkan Gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS) di berbagai wilayah, salah satunya di Kampung Pengok RW 12 Kelurahan Demangan. Warga setempat telah menerapkan pemilahan hingga pengolahan sampah dapur menggunakan biopori dan budidaya maggot. Gerakan ini diharapkan mampu menekan jumlah sampah yang masuk ke depo.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengapresiasi warga Kampung Pengok yang berhasil mengolah sampah menjadi pupuk dan pakan maggot untuk mendukung pertanian di pekarangan rumah. Ia mencontohkan praktik warga bernama Lis yang sudah menerapkan Mas JOS di rumah sehingga mampu mengurangi timbulan sampah.
“Saya berharap perubahan itu berasal dari bawah, kemudian kita provokasi sedikit, kita dukung kemudian menjadi masif. Makanya saya kampanye terus (Mas JOS) untuk mengubah mindset masyarakat Kota Yogyakarta,” ujar Hasto saat menghadiri kegiatan Mas JOS Menyapa di Kampung Pengok, Selasa (9/9/2025).
Hasto menegaskan pihaknya akan terus memantau pelaksanaan Mas JOS di 14 kemantren hingga kelurahan. Pemkot juga menyiapkan dukungan berupa gerobak dan ember cat bekas untuk pengolahan sampah organik. Nantinya hasil penilaian Mas JOS akan diumumkan pada peringatan Hari Jadi Kota Yogyakarta, 7 Oktober mendatang.
Gerakan ini dinilai mendesak mengingat jumlah sampah yang masuk ke depo mencapai 260 ton per hari, sedangkan yang mampu diolah Unit Pengolahan Sampah hanya sekitar 190 ton. Sementara kuota pembuangan sampah Kota Yogyakarta ke TPA Piyungan hingga Desember tersisa 10 persen atau sekitar 2.400 ton. Pada Januari–Juli 2025, Piyungan sudah menerima sekitar 23.000 ton sampah dari Kota Yogyakarta.
“Maka gerakan masif ini untuk menggembosi (sampah) depo. Biar yang ke depo tidak banyak. Sambil terus yang depo kita habiskan tapi kita harus gerilya (Mas JOS) ke warga-warga. Oleh karena itu gerakan dari kampung ke kampung, dari kelurahan ke kelurahan untuk menurunkan itu,” tegas Hasto seperti dikutip dari laman Pemerintah Kota Yogyakarta.
Salah satu warga, Alis Inmartiwi, telah mempraktikkan pemilahan sampah di rumah. Sampah plastik ia kumpulkan untuk bank sampah, sementara sisa sayur dan buah dikelola dengan biopori menjadi pupuk bagi tanaman. “Harian itu sisa-sisa dapur sayur dan buah saya masukan ke biopori. Saya buat empat biopori. Saya memang dari dulu kelola sampah karena di kelompok tani diajarkan. Mari kita olah sampah supaya sampah jadi barang berharga (bermanfaat) kalau saya untuk tanaman-tanaman pribadi tidak beli pupuk,” terang Lis.
Mantri Pamong Praja Kemantren Gondokusuman, Guritno, menambahkan warga RW 12 tidak hanya melaksanakan Mas JOS, tetapi juga berkolaborasi dengan kelompok tani. Sampah organik diolah untuk pakan maggot, sementara hasil pengolahannya dimanfaatkan untuk menanam cabai dan kebutuhan pertanian lainnya. “Yang jalan ini ibu-ibu semua. Ibu-ibu sudah tidak risih dengan maggot,” ungkapnya.(prg,wur)







