Yogyakarta (21/05/2026), suarapasar.com – Eks Parkir Abu Bakar Ali (ABA) akan ditata menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai bagian dari pengembangan kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta. Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menginginkan kawasan tersebut tetap didominasi ruang terbuka dengan keberadaan bangunan yang sangat minimal.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, usai menghadiri Rapat Rencana Penataan Sumbu Filosofi Segmen Selatan di Gedhong Gadri, Kompleks Kepatihan, Kamis (21/05).
“Ngarsa Dalem maunya ruang terbuka hijau yang ada nanti paling tidak memberikan suasana nyaman untuk pengunjung. Dan kalau desainnya memang menjadi taman, beliau menginginkan tidak perlu banyak bangunan. Dan memang nanti tidak ada bangunan, hanya ada toilet saja,” ungkapnya.
Made menjelaskan, konsep desain awal RTH ABA yang telah diajukan kepada Sri Sultan berupa hutan kota. Dalam rancangan tersebut, keberadaan toilet diposisikan di tengah kawasan karena selama ini sisi utara Malioboro belum memiliki fasilitas toilet umum yang memadai.
Namun, hasil rapat terbaru memutuskan posisi toilet akan sedikit digeser ke sisi barat dengan ukuran bangunan yang diperkecil agar tidak mengurangi kesan ruang terbuka hijau.
Selain itu, Sri Sultan juga menginginkan pemilihan vegetasi yang lebih beragam dan tidak hanya didominasi tanaman perdu. Dalam konsep penataan tersebut, nantinya akan ditambahkan pergola yang dilengkapi tanaman hias rindang agar suasana taman terlihat lebih hidup dan nyaman dipandang.
“Beliau menginginkan tanaman yang indah, yang bisa nyaman dipandang mata. Tapi nanti bisa kita kombinasikan, perdunya nanti tidak terlalu banyak. Mungkin akan kita kombinasikan dengan jenis perdu yang ada bunga-bunganya,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Made juga mengungkapkan rencana penataan kawasan Panggung Krapyak yang turut menjadi bagian dari Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta. Sebelum penataan dilakukan, Pemda DIY akan lebih dulu melakukan identifikasi persoalan pertanahan di kawasan tersebut.
“Karena di sana aktivitas ekonominya cukup padat, permukimannya juga cukup padat, sehingga memang tidak mudah, makanya perlu mengidentifikasi, baik dari sisi kepemilikan lahan maupun kemungkinan-kemungkinan pengembangannya. Dan beliau juga menyampaikan untuk persoalan tanah, coba diidentifikasi dan diselesaikan dulu,” katanya.
Made menegaskan, penataan kawasan Panggung Krapyak nantinya tidak akan mengubah pola maupun sistem yang sudah berjalan. Penyesuaian akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi sosial dan tata ruang yang ada.
Sebagai informasi, penataan Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta difokuskan pada pelestarian warisan budaya dunia UNESCO melalui pengelolaan tata ruang yang harmonis, pembatasan kendaraan, serta optimalisasi fasilitas pejalan kaki. Kawasan yang membentang dari Panggung Krapyak, Keraton, hingga Tugu Pal Putih tersebut ditata untuk menjaga keselarasan antara manusia, alam, dan nilai spiritual.(prg,wur)







