MY Esti Minta Wacana Penutupan Prodi Pendidikan Dikaji Mendalam, Daerah 3T Masih Kekurangan Guru

Kulon Progo, suarapasar.com – Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati, meminta pemerintah melakukan evaluasi dan kajian mendalam terkait wacana penutupan sejumlah program studi di perguruan tinggi negeri yang dinilai sepi peminat maupun memiliki tingkat serapan kerja rendah. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak boleh dilakukan secara terburu-buru, terutama jika menyasar program studi pendidikan atau keguruan.

MY Esti menegaskan kebutuhan tenaga pengajar di berbagai daerah, khususnya wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), masih sangat tinggi. Karena itu, penutupan prodi keguruan dinilai berpotensi memperburuk kekurangan guru di sejumlah daerah.

“Saya termasuk yang sering berkeliling di daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Bagaimana di sana kekurangan tenaga pengajar,” kata MY Esti kepada wartawan saat ditemui di Kantor DPC PDI Perjuangan Kulonprogo, Minggu (3/5/2026).

Menurut Esti, persoalan pendidikan di daerah bukan hanya soal jumlah lulusan keguruan, tetapi juga distribusi guru yang belum merata. Bahkan, di Kabupaten Kulon Progo sendiri masih ditemukan sekolah yang kekurangan guru untuk mata pelajaran tertentu.

“Memang muridnya mungkin satu sekolah hanya 30, mungkin muridnya hanya 16, tetapi di sana (daerah 3T) tidak ada gurunya yang mengajar. Bahkan ada satu sekolah 6 kelas begitu yang mengajar hanya satu orang. Nah, ini kan artinya kekurangan guru, atau setidaknya distribusi. Nah, harus melihat prodi mana yang penuh, prodi mana yang tidak itu dikoreksi terlebih dahulu,” tandas Esti, Anggota DPR RI dari Dapil DIY tersebut.

Ia menilai pemerintah perlu melihat kondisi riil di lapangan sebelum mengambil keputusan terkait penutupan program studi. Esti menegaskan kebutuhan guru di wilayah 3T masih harus dipenuhi agar kualitas pendidikan tetap terjaga.

Selain itu, MY Esti juga mendorong agar rekrutmen guru lebih memprioritaskan lulusan program studi pendidikan atau keguruan. Menurutnya, lulusan kependidikan memiliki bekal kompetensi yang lebih lengkap dibandingkan lulusan nonkependidikan.

“Dan yang pasti saya sebagai orang yang dulu kuliah di IKIP itu punya harapan yang dijadikan guru itu utamakan yang lulusan dari prodi pendidikan. Mengapa? Karena kalau di prodi pendidikan itu menguasai soal filsafat pendidikan, soal psikologi pendidikan,” pungkasnya.(prg,wur)