Koperasi Gemah Ripah Putar Ekonomi hingga Rp10 Miliar per Hari, Dorong Ekonomi Rakyat DIY

Yogyakarta, suarapasar.com — Kekuatan ekonomi kerakyatan di Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menunjukkan tajinya. Koperasi Gemah Ripah mencatat perputaran uang fantastis mencapai Rp5 miliar hingga Rp10 miliar per hari.

Ketua Koperasi Gemah Ripah, Mafthuhin, mengungkapkan bahwa angka tersebut mencerminkan aktivitas distribusi komoditas pangan yang sangat tinggi, khususnya sektor buah-buahan.

“Hitungannya sederhana, satu truk jeruk asal Medan itu nilainya antara Rp100 juta hingga Rp120 juta. Dalam satu hari bisa masuk hingga 20 truk, belum komoditas lain seperti semangka, nanas, dan melon,” jelasnya usai bertemu Wakil Gubernur DIY, Paku Alam X, di Gedhong Pare Anom, Senin (20/04/2026).

Menurut Mafthuhin, aktivitas ekonomi ini bahkan meningkat signifikan saat musim panen raya. Stabilnya distribusi komoditas menjadikan koperasi sebagai tulang punggung ekonomi bagi ribuan pedagang, buruh angkut, hingga pelaku usaha kecil di sekitarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Sri Paduka juga menekankan pentingnya pengembangan koperasi yang tidak hanya besar secara organisasi, tetapi juga memberi manfaat luas bagi masyarakat.

Mafthuhin menuturkan bahwa pesan utama yang disampaikan adalah filosofi “merangkul, bukan memukul”. Artinya, koperasi harus tumbuh secara inklusif tanpa mematikan pelaku usaha lain.

“Semangatnya adalah tumbuh bersama. Baik pedagang besar, kecil, hingga tenaga bongkar muat harus dirangkul sebagai satu kesatuan ekonomi,” ujarnya.

Sejalan dengan arahan tersebut, Koperasi Gemah Ripah berencana melakukan ekspansi ke wilayah lain seperti Kulon Progo dan Gunungkidul. Namun, ekspansi ini ditegaskan bukan untuk monopoli pasar, melainkan memberdayakan potensi lokal dengan sistem koperasi yang telah teruji.

Di sisi lain, koperasi ini juga menghadirkan inovasi ramah lingkungan melalui kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada. Limbah buah kini diolah menjadi energi listrik yang mampu menjadi cadangan saat aliran PLN padam.

“Kami sudah punya instalasi pengelolaan sampah sendiri. Listrik dari limbah buah bisa menjadi back-up otomatis, sehingga aktivitas tetap berjalan,” terang Mafthuhin.

Meski masih menghadapi tantangan pada pengolahan limbah tertentu seperti jeruk, riset terus dilakukan agar seluruh jenis limbah dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Langkah ini menunjukkan bahwa koperasi tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.

Dengan kombinasi kekuatan ekonomi dan inovasi berkelanjutan, Koperasi Gemah Ripah diharapkan menjadi model pengembangan ekonomi rakyat yang inklusif, mandiri, dan ramah lingkungan di Yogyakarta.(prg,wur)