Jejak Perjuangan Fatmawati, Aktivis Sejak Muda di Bengkulu, Inspirasi bagi Generasi Muda dan Kaum Ibu

BENGKULU – Sosok Fatmawati, penjahit Sang Saka Merah Putih sekaligus istri Presiden pertama Republik Indonesia, terus menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia. Semangat perjuangan, kepedulian sosial, serta kesetiaannya mendampingi perjuangan bangsa menjadi nilai-nilai yang relevan hingga saat ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Sofyan Setya Darmawan, Anggota Komisi A DPRD DIY dari Fraksi PKS saat mengunjungi Rumah Kelahiran Fatmawati di Bengkulu Kamis (11/6/2026).

Sofyan menilai Fatmawati merupakan figur yang patut diteladani, terutama oleh kalangan remaja dan para ibu.

“Sejak remaja, Bu Fatmawati sudah memiliki kepedulian sosial yang tinggi dan semangat perjuangan untuk kemerdekaan. Beliau lahir dari keluarga tokoh pergerakan, sehingga nilai-nilai perjuangan sudah tertanam sejak kecil,” ujarnya.

Koleksi di Rumah Ibu Fatmawati Soekarno di Jl Fatmawati 10 Bengkulu (wuri damaryanti)

Sofyan menjelaskan bahwa Fatmawati merupakan putri dari Hasan Din dan Siti Chadijah yang dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah di Bengkulu. Latar belakang keluarga tersebut dinilai turut membentuk karakter Fatmawati sebagai sosok yang aktif dan memiliki visi perjuangan.

“Ini menjadi contoh bagi generasi muda bahwa sejak usia remaja seseorang sudah bisa memiliki cita-cita besar untuk bangsa. Bagi para ibu, keteladanan Bu Fatmawati terlihat dari kesetiaannya mendampingi suami dalam masa-masa perjuangan yang penuh tantangan,” imbuh Sofyan.

Sementara itu, Marwan Amanadin, sepupu kandung Fatmawati yang saat ini turut mengawasi rumah kelahiran sang pahlawan atas penugasan pemerintah daerah, menjelaskan bahwa rumah yang kini menjadi museum tersebut merupakan tempat kelahiran Fatmawati pada tahun 1923.

“Saya masih sepupu kandung Fatmawati. Ayah saya dan ayah Fatmawati adalah saudara kandung. Rumah ini memang rumah asli tempat Fatmawati lahir. Pada tahun 1990-an rumah ini direnovasi dan dijadikan museum,” jelas Marwan.

Rumah Ibu Fatmawati Soekarno di Jl Fatmawati 10 Bengkulu (wuri damaryanti)

Menurutnya, sebelum menjadi museum, rumah tersebut merupakan tempat tinggal keluarga Fatmawati. Ia tinggal di rumah itu hingga menikah dengan Soekarno pada tahun 1943 dan kemudian dibawa ke Jakarta.

Marwan juga mengungkapkan bahwa salah satu koleksi paling bersejarah di museum tersebut adalah mesin jahit asli yang digunakan Fatmawati untuk menjahit Bendera Merah Putih. Meski proses penjahitan dilakukan di Jakarta, mesin jahit tersebut kemudian dibawa ke Bengkulu dan kini dipamerkan di museum.

“Mesin jahit itu asli. Selain itu ada ranjang asli yang pernah digunakan keluarga. Sedangkan sebagian barang lainnya merupakan replika atau sudah mengalami pergantian,” ujarnya.

Mesin jahit yang digunakan Fatmawati menjahit bendera merah putih menjadi salah satu koleksi Rumah Ibu Fatmawati Soekarno di Jl Fatmawati 10 Bengkulu (wuri damaryanti)

 

Mengenai sosok Fatmawati, Marwan menggambarkannya sebagai pribadi yang sederhana dan dekat dengan masyarakat.
“Beliau orang yang baik, tidak sombong, dan sangat merakyat,” katanya.

Marwan menuturkan, Fatmawati mulai belajar menjahit sejak masa remaja. Sebagai anak tunggal, ia menghabiskan masa kecil dan remajanya di Bengkulu hingga menamatkan pendidikan setingkat sekolah menengah atas. (wds/drw)