Yogyakarta, suarapasar.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta merilis pembaruan perkembangan iklim per 20 Juli 2026. Berdasarkan hasil pengamatan gejala fisis serta dinamika atmosfer dan laut terkini, wilayah D.I. Yogyakarta diperkirakan akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal akibat potensi menguatnya fenomena El Nino pada paruh kedua tahun ini.
Hasil analisis menunjukkan angin di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator bertiup dari timur yang mengindikasikan Monsun Australia masih aktif. Sementara itu, Indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) berada pada kondisi moderat dengan peluang berkembang menjadi El Nino kategori kuat pada Agustus hingga Desember 2026. Di sisi lain, Dipole Mode Indeks (DMI) masih berada pada kategori netral, namun berpotensi menjadi positif pada September hingga Desember 2026. BMKG juga memprediksi Madden Julian Oscillation (MJO) tidak aktif di wilayah Indonesia.
Analisis suhu muka laut di perairan selatan D.I. Yogyakarta menunjukkan anomali antara -0,5°C hingga 0,5°C atau berada pada kategori netral hingga hangat, dengan suhu permukaan laut berkisar 24°C sampai 26°C.
Untuk prediksi hujan, BMKG memperkirakan curah hujan pada dasarian III Juli 2026 berada pada kategori rendah, yakni sekitar 0–10 mm per dasarian dengan sifat hujan seluruhnya Bawah Normal (BN). Kondisi serupa diperkirakan berlanjut pada dasarian I dan II Agustus 2026 dengan curah hujan tetap rendah, sementara sifat hujan bervariasi dari Bawah Normal (BN) hingga Atas Normal (AN).
Dalam tiga bulan mendatang, curah hujan di wilayah D.I. Yogyakarta diprediksi tetap berada pada kisaran 0–20 mm per bulan atau termasuk kategori rendah. Pada Agustus 2026 sifat hujan diperkirakan bervariasi dari Bawah Normal (BN) hingga Atas Normal (AN), sedangkan pada September dan Oktober 2026 diprediksi seluruhnya berada pada kategori Bawah Normal (BN).
BMKG juga memprediksi sifat hujan musim kemarau 2026 didominasi kategori Bawah Normal (BN) pada tujuh Zona Musim (ZOM) atau 87,5 persen, sementara satu ZOM atau 12,5 persen diperkirakan berada pada kategori Normal (N). Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di seluruh delapan ZOM di D.I. Yogyakarta.
Durasi musim kemarau diperkirakan berlangsung antara 16 hingga 21 dasarian dengan jumlah curah hujan musim kemarau berkisar 250–400 mm. Sementara itu, akhir musim kemarau diprediksi terjadi pada dasarian I hingga II November 2026.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan terhadap dampak musim kemarau, terutama di wilayah yang rawan kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, serta berkurangnya ketersediaan air bersih. Potensi El Nino kategori kuat pada Agustus hingga Desember 2026 diperkirakan dapat mengurangi curah hujan sekaligus memperpanjang durasi musim kemarau di wilayah D.I. Yogyakarta.
Selain itu, BMKG mengingatkan agar masyarakat mewaspadai prediksi sifat hujan musim kemarau yang berada pada kategori Bawah Normal (BN), yang berarti kondisi kemarau diperkirakan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis. Sektor pertanian juga diimbau melakukan antisipasi melalui penyesuaian pola tanam dan pengelolaan sumber daya air secara lebih efisien guna mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan yang berpotensi berlangsung mulai Juli hingga Desember 2026.
BMKG mengajak masyarakat untuk terus memperbarui informasi iklim melalui kanal resmi Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta, baik melalui media sosial maupun situs web resmi BMKG, agar dapat mengantisipasi perkembangan kondisi cuaca dan iklim secara lebih dini.(prg,wur)







