Pemkot Yogyakarta Perpanjang Status Siaga Darurat Bencana hingga Februari 2026

Umbulharjo, suarapasar.com – Pemerintah Kota Yogyakarta resmi memperpanjang penetapan status siaga darurat bencana banjir, talut longsor, dan cuaca ekstrem hingga Februari 2026. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi sekaligus upaya pengurangan risiko bencana, terutama menjelang puncak musim hujan di wilayah Yogyakarta yang diperkirakan terjadi pada Januari hingga Februari 2026.

Perpanjangan status siaga darurat tersebut tertuang dalam Keputusan Wali Kota Yogyakarta Nomor 490 Tahun 2025 tentang Perpanjangan Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Talut Longsor, dan Cuaca Ekstrem di Kota Yogyakarta. Keputusan yang ditandatangani pada 31 Desember 2025 ini menetapkan masa siaga darurat mulai 1 Januari sampai dengan 28 Februari 2026.

Ketua Tim Kerja Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Yogyakarta, Petrus Singgih Purnomo, menjelaskan bahwa sebelumnya status siaga darurat bencana ditetapkan hingga Desember 2025. Salah satu dasar perpanjangan adalah rilis perkembangan iklim dari BMKG Stasiun Klimatologi DIY yang memprediksi puncak musim hujan terjadi pada Januari–Februari 2026.

“Untuk Kota Yogyakarta siaga darurat bencana sudah diperpanjang sampai Februari 2026. Mengingat prediksi puncak musim hujan pada bulan Januari-Februari 2026,” kata Singgih saat dikonfirmasi, Rabu (14/1/2026).

Menurutnya, status siaga darurat juga diperlukan untuk mempermudah koordinasi lintas perangkat daerah dalam menyusun dan melaksanakan program antisipasi bencana, sehingga penanganan kejadian darurat dapat dilakukan secara cepat dan efektif.

BPBD Kota Yogyakarta mencatat sepanjang tahun 2025 terjadi berbagai kejadian bencana, antara lain 138 kejadian pohon tumbang, 66 atap rumah rusak akibat angin kencang atau cuaca ekstrem, 26 kejadian tanah atau talut longsor, 12 kejadian banjir luapan, serta 1 kejadian gempa bumi. Salah satu kejadian banjir luapan tercatat terjadi pada awal Desember 2025 di wilayah Bener, Tegalrejo, dan Pakuncen akibat meluapnya Sungai Winongo.

“Selama ini kejadian di Kota Yogya paling banyak pohon tumbang. Januari ini juga ada beberapa pohon tumbang. Makanya kami imbau warga untuk mengurangi atau memangkas sebagian pohon yang rimbun dan lapuk untuk mencegah pohon tumbang,” terang Singgih seperti dikutip dari laman Pemerintah Kota Yogyakarta.

Selain itu, BPBD juga mencatat dampak hujan lebat dan angin kencang pada 13 Januari 2026 berupa dahan pohon patah di halaman rumah warga Jatimulyo, Kricak, serta atap kanopi roboh di Notoprajan, Ngampilan. Tim Reaksi Cepat BPBD bersama relawan, Kampung Tangguh Bencana, dan masyarakat setempat bergerak cepat melakukan evakuasi secara gotong royong.

Sementara itu berdasarkan rilis resmi BMKG pada 10 Januari 2026 di laman Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Kepala Stasiun Klimatologi DIY Reni Kraningtyas, menjelaskan puncak musim hujan di DIY diprediksi pada bulan Januari- Februari 2026. Curah hujan dasarian II Januari 2026 diprediksi dalam kategori menengah– tinggi berkisar antara 75 – 200 mm/dasarian dengan sifat hujan Normal- Atas Normal. Curah hujan dasarian III Januari 2026 diprediksi dalam kategori menengah- tinggi berkisar antara 50 – 200 mm/dasarian dengan sifat hujan Bawah Normal – Normal. Untuk curah hujan dasarian I Februari 2026 diprediksi dalam kategori menengah berkisar antara 50 – 150 mm/dasarian dengan sifat hujan Bawah Normal.

“BMKG menghimbau kepada pemerintah daerah, institusi terkait dan seluruh masyarakat untuk lebih siap dan antisipatif terhadap waspada puncak musim hujan. Terutama di wilayah rawan banjir, tanah longsor dan angin kencang dengan melakukan tindakan mitigasi bencana meliputi membersihkan saluran-saluran air, memangkas dahan pohon, memastikan kekuatan baliho-baliho di jalan dan tindakan-tindakan mitigasi bencana lainnya,” jelas Reni.(prg,wur)