Yogyakarta (14/07/2026), suarapasar.com – Di tengah pesatnya urbanisasi yang terus mengubah wajah perkotaan di Indonesia, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa pembangunan kota harus tetap berorientasi pada manusia, budaya, dan karakter daerah. Menurutnya, kota masa depan bukan hanya dipenuhi bangunan modern, tetapi juga harus mampu mempertahankan identitas serta menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Pandangan tersebut disampaikan dalam pertemuan silaturahmi antara Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Selasa (14/07). Selama sekitar dua jam, keduanya berdiskusi mengenai arah pembangunan permukiman dan penataan kawasan perkotaan yang berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) DIY Danang Setiadi, serta Kepala Dinas Perhubungan DIY Chrestina Erni Widyastuti.
Pada kesempatan itu, Fahri Hamzah menyerahkan sekaligus mendiskusikan buku karyanya berjudul Indonesia Menuju Swasembada Papan 2045. Buku tersebut memuat peta jalan pembangunan perumahan nasional sebagai bagian dari Program Tiga Juta Rumah menuju Indonesia Emas 2045.
Pembahasan tidak hanya berfokus pada penyediaan perumahan, tetapi juga mencakup berbagai isu strategis penataan kawasan perkotaan. Di antaranya pengembangan permukiman, penataan bantaran sungai, pengelolaan kawasan pesisir, hingga peluang pengembangan wilayah baru yang tetap memperhatikan karakter ruang dan lingkungan.
Sri Sultan menegaskan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik, potensi, serta tantangan yang berbeda sehingga pembangunan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama. Menurutnya, penataan kawasan harus didasarkan pada kondisi sosial masyarakat, daya dukung lingkungan, serta filosofi ruang yang menjadi identitas suatu daerah.
“Sekarang baru pandangannya saja. Nanti masih ada pembicaraan tindak lanjut bagaimana mengaplikasikan. Kalau melihat lokasi dan kondisi di lapangan, tentu akan berkembang lagi berbagai kemungkinan desain dan pengembangannya,” ujar Sri Sultan.
Sri Sultan menambahkan bahwa berbagai gagasan yang muncul dalam diskusi tersebut masih memerlukan kajian teknis dan peninjauan lapangan agar implementasinya sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekaligus selaras dengan karakter kawasan yang akan dikembangkan.
Selain itu, Sri Sultan menekankan bahwa pembangunan kawasan permukiman perlu mempertimbangkan berbagai aspek secara menyeluruh, mulai dari kondisi wilayah, kemampuan masyarakat, kebutuhan infrastruktur, hingga keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya menghadirkan kawasan yang layak huni, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang.
Pandangan tersebut mendapat apresiasi dari Fahri Hamzah. Ia mengaku sengaja datang untuk berdiskusi dengan Sri Sultan yang selama ini dihormatinya sebagai guru sekaligus tokoh yang memiliki pengalaman panjang dalam memahami perkembangan kota dan dinamika masyarakat.
“Yogyakarta adalah salah satu kota warisan budaya dan kota tua yang ada di Indonesia. Mendapatkan masukan dari Sri Sultan tentang bagaimana menata perkotaan berdasarkan pengalaman yang ada menjadi diskusi yang sangat menarik. Pengalaman DIY sangat kaya dan bisa menjadi inspirasi dalam menata kota-kota Indonesia ke depan,” ujar Fahri.
Fahri menambahkan, Presiden Prabowo Subianto tengah menyiapkan agenda besar untuk meningkatkan kualitas kawasan perkotaan melalui pembangunan permukiman yang lebih tertata dan modern. Selain Program Tiga Juta Rumah, pemerintah juga mendorong lahirnya kawasan-kawasan hunian baru yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dalam konteks tersebut, pengalaman DIY dinilai memiliki nilai strategis. Selama ini DIY dikenal tidak hanya sebagai pusat budaya dan pendidikan, tetapi juga sebagai daerah yang terus berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan wilayah, kelestarian lingkungan, dan kenyamanan hidup masyarakat.
Berbagai isu strategis turut dibahas dalam pertemuan tersebut, mulai dari pengembangan kawasan permukiman, penataan bantaran sungai, pengelolaan kawasan pesisir, hingga peluang pengembangan wilayah baru. Fahri menilai DIY masih memiliki ruang untuk tumbuh dan berkembang melalui konsep pembangunan yang terukur, inklusif, dan berkelanjutan.
Silaturahmi tersebut menegaskan masa depan kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kemampuan menjaga harmoni antara manusia, budaya, dan lingkungan. Karena itu, pembangunan yang berkelanjutan perlu berpijak pada keseimbangan antara pertumbuhan wilayah, kualitas hidup masyarakat, serta pelestarian identitas daerah. Nilai-nilai tersebut selama ini menjadi bagian dari pengalaman pembangunan di DIY yang dinilai dapat menjadi inspirasi bagi penataan kota-kota Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.(prg,wur)








