Akademisi Tekankan Pentingnya Disiplin Mitigasi, Manajemen Resiko Bencana Wujudkan Wisata Tangguh Bencana di DIY

Ghifari Yuristiadhi M. Makhasi, Mahasiswa Doktor Kajian Pariwisata sekaligus Dosen Bisnis Perjalanan Wisata Sekolah Vokasi UGM, menegaskan pentingnya disiplin mitigasi dan manajemen risiko bencana untuk menjaga keamanan wisata di tengah cuaca ekstrem. Dalam forum diskusi wartawan unit DPRD DIY di Gedung DPRD DIY, Rabu (3/12/2025), ia memaparkan bahwa BMKG memprediksi curah hujan ekstrem sejak September hingga puncaknya pada Januari–Februari 2026. “Curah hujan di DIY saat ini masih di atas rata-rata. Potensinya meningkat terus, dan dampaknya meliputi banjir, genangan air, hingga tanah longsor,” katanya.

Data BPBD DIY menunjukkan peningkatan hujan di beberapa wilayah seperti Imogiri, Pundong, dan Purwosari, yang rawan hujan lebat dengan angin kencang serta petir. Kawasan perbukitan di Gunungkidul, Kulon Progo, dan Sleman masuk dalam zona rawan longsor, sementara dataran rendah lebih rentan banjir. Ia mencontohkan kejadian longsor yang sempat memutus akses menuju salah satu destinasi wisata di selatan DIY, yang berpotensi menghambat kunjungan saat masa liburan.

Selain cuaca ekstrem, Ghifari menilai DIY menghadapi risiko multi-hazard, termasuk potensi erupsi dan aktivitas geologi lain. Karena itu, pendekatan preventif dan edukatif harus diperkuat, termasuk penerapan hierarki pengendalian risiko mulai dari eliminasi, substitusi aktivitas, engineering control, administrative control, hingga penggunaan APD.

Ghifari juga menyoroti minimnya kesadaran wisatawan terhadap informasi BMKG. “Kadang ada wisatawan atau rombongan yang tetap nekat meski sudah ada peringatan cuaca ekstrem. Ini berbahaya,” ujarnya. Aktivitas seperti berenang di pantai selatan, bermain di sungai, atau berkemah di kawasan rawan banjir dan longsor disebutnya sangat berisiko pada periode ini.

Meski demikian, DIY diperkirakan tetap dikunjungi sekitar 1,6 juta wisatawan selama libur akhir tahun. “Ini peluang besar, tapi juga tantangan. Kenyamanan dan keselamatan bisa menurun jika cuaca ekstrem tidak diantisipasi,” jelasnya.

Ia menutup dengan penegasan bahwa pembangunan citra DIY sebagai destinasi wisata tangguh bencana harus menjadi prioritas bersama. “Dengan ketidakpastian cuaca yang meningkat, pariwisata DIY menghadapi tantangan sekaligus peluang. Yang terpenting adalah kesiapan semua pihak,” pungkas Ghifari.(prg,wur)