Yogyakarta, suarapasar.com – Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, menegaskan bahwa kesehatan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia yang tidak dapat ditawar dalam kondisi apa pun. Karena itu, dunia kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk pendidikan kedokteran, perlu terus berkembang secara moderat dan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Hal tersebut disampaikan saat menerima audiensi Panitia Kongres Nasional dan Pertemuan Ilmiah Nasional Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI), dan Perhimpunan Endoskopi Gastro-intestinal Indonesia (PEGI) Tahun 2026 di Gedhong Pareanom, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis (4/6/2026).
“Kami di Pakualaman memang concern di pendidikan dan kesehatan. Dan kami berharap, lewat kongres nasional para ahli kesehatan penyakit dalam ini, dunia kesehatan di DIY bisa lebih termoderasi. Apalagi nanti saat kongres pasti banyak terjadi diskusi dan saling berbagi ilmu serta pengalaman,” tutur Sri Paduka.
Menurutnya, pengembangan ilmu kesehatan harus terus dilakukan seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas. Selain itu, hasil-hasil kajian dan diskusi ilmiah yang dihasilkan dalam forum akademik perlu disebarluaskan kepada masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.
“Kami tentu mengharapkan adanya diseminasi informasi. Bagaimana agar hasil kongres ini nantinya juga punya kemaslahatan lebih luas bagi masyarakat. Tentu agar jangkauannya lebih luas, bisa memanfaatkan media sosial maupun online,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Kongres Nasional dan Pertemuan Ilmiah Nasional PPHI-PGI-PEGI 2026, dr. Putut Bayupurnama, SpPD, KGEH, FINASIM, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut akan diikuti lebih dari 500 peserta yang terdiri atas dokter dan mahasiswa kedokteran dari berbagai daerah di Indonesia. Kongres juga akan menghadirkan sejumlah pembicara ahli dari luar negeri.
“Kami berharap kongres nasional ini menjadi wadah ilmiah yang bermanfaat, serta meninggalkan kesan yang berharga bagi seluruh pihak yang terlibat. Dan sebagai tuan rumah, kami juga ingin memberi ruang bagi seluruh peserta untuk menikmati keindahan dan kekayaan budaya Yogyakarta,” ujarnya.
Putut menjelaskan, kongres nasional tersebut melibatkan tiga organisasi profesi medis yang berfokus pada bidang pencernaan, hati, dan endoskopi gastrointestinal, yakni PPHI, PGI, dan PEGI. Kegiatan akan berlangsung pada 23–26 Juli 2026 di The Alana Hotel & Convention Center Yogyakarta.
Mengusung tema “Challenges and Innovations in Gastroenterohepatology: From Research to Clinical Practice”, kongres ini diselenggarakan sebagai respons terhadap meningkatnya kasus penyakit gastroenterohepatologi yang masih menghadapi berbagai tantangan dalam diagnosis maupun penanganan klinis.
“Kegiatan ilmiah ini diselenggarakan sebagai sarana memperluas wawasan sekaligus memperkuat penerapan klinis di bidang Gastroentero-Hepatologi,” paparnya.
Selain menghadirkan workshop, kuliah pleno, simposium, dan post graduate course, kegiatan ini juga akan menjadi wadah presentasi hasil penelitian melalui makalah oral maupun poster ilmiah. Pameran produk farmasi dan alat kesehatan juga akan turut memeriahkan rangkaian kegiatan.
Melalui penyelenggaraan kongres nasional tersebut, Pemerintah Daerah DIY berharap Yogyakarta tidak hanya menjadi tuan rumah kegiatan ilmiah berskala nasional, tetapi juga menjadi pusat pertukaran pengetahuan yang mampu mendorong kemajuan layanan kesehatan dan pendidikan kedokteran di Indonesia.(prg,wur)





