KULON PROGO – PT Angkasa Pura Indonesia Cabang Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) memperkuat upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika di lingkungan sekitar bandara melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) Daerah Istimewa Yogyakarta, perusahaan menggelar program “Berintegrasi, Bersih, dan Berbudi” bertema Sekolah Bersih Narkoba (BERSINAR) 2026 di SMK Negeri 1 Temon, Kulon Progo, Rabu (29/7/2026).
Program ini menjadi bagian dari sinergi dunia usaha dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan generasi muda terhadap ancaman narkotika, khususnya di kawasan penyangga Bandara Internasional Yogyakarta.
Airport Operation, Services & Security Division Head YIA, Rahmat Febrian Syahrani, mengatakan bahwa kepedulian perusahaan tidak hanya diwujudkan melalui layanan transportasi udara, tetapi juga melalui kontribusi sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat sekitar.
“Program Sekolah Bersih dari Narkoba atau BERSINAR ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab PT Angkasa Pura Indonesia Cabang Bandara Internasional Yogyakarta terhadap lingkungan di sekitarnya,” ujarnya.
Menurut Rahmat, keberadaan bandara harus mampu memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk mendukung terciptanya lingkungan yang sehat dan aman bagi generasi muda.
“Bandara tidak hanya memberikan pelayanan yang aman, nyaman, dan selamat bagi para penumpang, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan di sekitarnya,” katanya.
Sementara itu, Kepala BNN DIY, Brigjen Pol. Faried Zulkarnaen, mengungkapkan bahwa DIY masih menghadapi tantangan serius dalam pemberantasan narkotika. Berdasarkan pemetaan BNN, Yogyakarta berada di peringkat kelima nasional dalam tingkat kerawanan penyalahgunaan narkoba.
Ia menjelaskan, penyalahgunaan paling banyak berasal dari obat-obatan tertentu yang dikenal masyarakat dengan sebutan pil sapi, karena relatif mudah diperoleh dan memiliki harga yang murah.
“Yogyakarta mempunyai daerah kerawanan yang cukup tinggi, menempati ranking kelima se-Indonesia. Paling banyak penyalahgunaannya adalah obat-obatan tertentu atau yang dikenal sebagai pil sapi,” jelas Faried.
BNN DIY juga menyoroti keterkaitan penyalahgunaan narkoba dengan meningkatnya berbagai bentuk kenakalan remaja, termasuk aksi kekerasan dan geng motor yang melibatkan pelajar.
“Dari beberapa pengungkapan kasus, kenakalan remaja hingga geng motor kerap diakibatkan oleh penyalahgunaan narkoba. Pelakunya didominasi anak-anak pelajar,” tegasnya.
Melalui deklarasi Sekolah Bersih Narkoba dan penguatan program Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN), BNN DIY berharap para pelajar mampu menjadi pelopor dalam membangun lingkungan yang bebas narkoba.
Faried menegaskan bahwa pelajar merupakan kelompok yang paling rentan menjadi sasaran peredaran narkotika. “Karena itu, edukasi harus dibarengi dengan pembentukan karakter agar mereka mampu menjadi agen perubahan di sekolah, keluarga, maupun lingkungan pergaulan,” tandasnya.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pencegahan penyalahgunaan narkoba memerlukan kolaborasi lintas sektor. Keterlibatan dunia usaha melalui program TJSL dinilai dapat memperluas jangkauan edukasi sekaligus memperkuat budaya hidup sehat di kalangan generasi muda, terutama di kawasan sekitar Bandara Internasional Yogyakarta. (wds/drw)








