Napak Tilas Jejak Perjuangan Bung Karno di Bengkulu, Wartawan & DPRD DIY Gali Nilai Nasionalisme

Bengkulu – Rumah Bekas Kediaman Bung Karno di Kota Bengkulu menjadi salah satu lokasi bersejarah yang kembali menarik perhatian dalam rangkaian kunjungan kerja Komisi A DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Forum Wartawan Unit DPRD DIY di Bengkulu Kamis (11/6/2026).

Syarief Guska Laksana, Sekretaris Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjelaskan kunjungan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai nasionalisme dan mengenang perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, selama masa pengasingannya.
Kunjungan ke Bengkulu ini juga bertepatan dengan peringatan Bulan Pancasila. Kegiatan tersebut bertujuan menggali semangat perjuangan Bung Karno selama masa pengasingan serta memperkuat pemahaman tentang nilai-nilai kebangsaan.

“Meski ruang geraknya dibatasi saat diasingkan, Bung Karno tetap teguh pada prinsip dan terus menyebarkan ide serta gagasannya melalui berbagai karya dan aktivitas yang dapat diterima masyarakat saat itu. Ini perlu kita teladani,” ujarnya.

“Melalui napak tilas ini, harapannya semangat perjuangan, keteguhan prinsip, dan nilai nasionalisme yang diwariskan Bung Karno dapat terus menjadi inspirasi bagi generasi masa kini dalam membangun bangsa dan negara,” tandas Syarief Guska Laksana.

Pengunjung memperhatikan koleksi di Rumah Bekas Kediaman Bung Karno Bengkulu

Dalam penjelasannya, Pengelola operasional Rumah Kediaman Bung Karno saat pengasingan di Bengkulu, Safrida Hanum, mengatakan bahwa bangunan tersebut merupakan rumah yang dibangun pada tahun 1918 dan sebelumnya dimiliki oleh warga keturunan Tionghoa. Rumah itu kemudian disewa oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi tempat pengasingan Bung Karno selama empat tahun, yakni sejak 1938 hingga 1942.

“Bung Karno tinggal di sini bersama Bu Inggit Garnasih, istri keduanya, serta dua anak angkat mereka Ratna Djuami dan Sukarti yang dibawa dari Bandung ke Bengkulu,” ujar Safrida Hanum saat mendampingi rombongan.
Selama berada di Bengkulu, Bung Karno tidak hanya menjalani masa pengasingan, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial dan kebudayaan. Salah satu jejak sejarah yang masih dikenang adalah pembentukan kelompok sandiwara dan musik bernama Monte Carlo. Kelompok tersebut melibatkan masyarakat setempat, termasuk Fatmawati yang saat itu masih berstatus murid Bung Karno dan belum menjadi istrinya.
“Dari kegiatan teater itulah awal perkenalan Bung Karno dengan Fatmawati,” jelas Hanum.
Di dalam rumah pengasingan, sejumlah benda bersejarah masih terawat dan dipertahankan keasliannya. Beberapa di antaranya adalah sepeda, kursi, ranjang, serta sumur yang pernah digunakan Bung Karno selama tinggal di lokasi tersebut.

“Sumur tua tersebut memiliki keunikan tersendiri. Meski berada tidak jauh dari kawasan pantai, air sumur tetap terasa tawar dan tidak payau. Masyarakat setempat bahkan memiliki cerita turun-temurun bahwa siapa saja yang membasuh wajah di sumur tersebut akan kembali berkunjung ke rumah bersejarah itu di kemudian hari,” terang Hanum.
Menurut Hanum, bangunan rumah hingga kini masih mempertahankan bentuk aslinya. Meski demikian, sejumlah renovasi dan pemugaran telah dilakukan sejak sekitar tahun 1985 untuk menjaga kelestarian bangunan. Perbaikan meliputi penggantian genteng yang rusak akibat gempa, pengecatan, penataan taman, hingga pembangunan pagar di sekeliling area rumah.
“Struktur dan bentuk bangunan tetap dipertahankan seperti aslinya,” katanya.
Rumah yang memiliki ukuran bangunan sekitar 9 x 18 meter itu dulunya berdiri di atas lahan seluas sekitar empat hektare. Namun seiring perkembangan kawasan dan kebutuhan pembangunan, luas area kini telah berkurang dibandingkan kondisi awal. (wds/drw)