Manasik Haji di LP Wirogunan, Ratusan Warga Binaan Menangis Saat Bertalbiyah

Yogyakarta, suarapasar.com — Suasana khusyuk dan haru layaknya pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci terasa di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta. Sebanyak 100 warga binaan yang oleh Kepala Lapas Marjiyanto disebut sebagai santri mengikuti kegiatan manasik haji yang digelar di lingkungan lapas, Sabtu pagi.

Mengenakan kain ihram dan tanpa alas kaki, para peserta menjalani rangkaian manasik dengan penuh penghayatan. Bahkan, sejumlah warga binaan yang bertato tampak mengikuti setiap prosesi dengan khidmat dan semangat.

Kegiatan diawali dengan berkumpulnya para santri di Masjid Al Fajar LP Wirogunan untuk mengikuti pengantar dan khutbah wukuf Arafah yang disampaikan oleh Ustaz Munif Tauhid, Kepala Lapas Marjiyanto, Taufik Ridwan, serta santri Nur Ahmad Afandi. Suasana semakin syahdu ketika seluruh peserta bersama-sama melantunkan shalawat.

Air mata mulai mengalir saat para santri mengumandangkan talbiyah berulang kali. Banyak di antara mereka yang tidak mampu menahan haru saat membayangkan berada di Tanah Suci dan menjalankan ibadah haji yang sesungguhnya.

Direktur Utama Latifa Haramain, H. Taufik Ridwan, memandu para peserta mengambil “kerikil” yang digunakan untuk prosesi lempar jumrah. Dalam simulasi tersebut, kerikil digantikan dengan biji jagung yang kemudian digunakan untuk melempar jumrah ula, wustha, dan aqabah.

Prosesi lempar jumrah berlangsung penuh semangat. Para peserta meyakini bahwa kegiatan tersebut merupakan simbol perlawanan terhadap hawa nafsu, godaan setan, dan kesalahan masa lalu yang telah membawa mereka menjalani masa pembinaan di lapas.

Bahkan, beberapa peserta terlihat histeris dan menangis saat melempar jumrah. Mereka mengaku teringat berbagai peristiwa dalam hidup yang berujung pada perpisahan dengan keluarga dan kehilangan kebebasan.

Usai prosesi jumrah, peserta melanjutkan rangkaian manasik dengan tawaf mengelilingi replika Ka’bah dan melakukan sa’i. Pada tahapan ini, suasana haru kembali terasa. Sejumlah warga binaan tampak menundukkan kepala sambil berdoa dan meneteskan air mata.

“Saya sangat berharap kelak, setelah keluar dari Wirogunan, bisa ke Tanah Suci baik untuk umrah maupun berhaji,” ujar Mery, salah satu peserta yang telah menghafal 13 juz Al-Qur’an.

Menurut pengelola pembinaan, banyak warga binaan di LP Wirogunan yang memanfaatkan masa pembinaan untuk memperdalam ilmu agama. Tidak sedikit yang telah menghafal lebih dari lima juz Al-Qur’an, bahkan ada yang tercatat telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 217 kali.

Ustaz Munif Tauhid mengatakan masyarakat sering memiliki persepsi keliru tentang kehidupan di dalam penjara. Menurutnya, banyak warga binaan justru memanfaatkan waktu untuk memperbaiki diri melalui berbagai kegiatan keagamaan.

“Banyak hikmah yang bisa didapat. Mereka lebih fokus mengaji, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam karena hampir setiap hari ada kajian keagamaan,” ujarnya.

Ia menambahkan, berbagai kegiatan pembinaan keagamaan di LP Wirogunan juga disiarkan melalui Vertizone TV sehingga keluarga di rumah dapat menyaksikan aktivitas positif yang dilakukan warga binaan selama menjalani masa pembinaan.

Kegiatan manasik haji yang berlangsung di halaman tengah LP Wirogunan tersebut ditutup dengan makan bersama yang diikuti para peserta dan didampingi sejumlah pengurus Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) DIY. Melalui kegiatan ini, para warga binaan diharapkan semakin termotivasi untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.(prg,wur)