Kulon Progo, suarapasar.com – Kawasan bekas tambang mangan Kliripan di Kalurahan Hargorejo Kokap Kulon Progo telah ditetapkan sebagai situs geoheritage Mangan Kliripan-Karangsari berdasarkan Surat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 13.K/HK.01/MEM.G/2021. Tidak hanya itu, pada 7 Mei 2025, situs Mangan Kliripan ditetapkan sebagai bagian dari Geopark Nasional Jogja berdasarkan pada Surat Keputusan (SK) Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) No. 171.K/GL.01/MEM.G/2025 tentang Penetapan Taman Bumi (Geopark) Nasional Jogja.
Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Joko Mursito S.Sn, MA menegaskan status geopark tidak boleh berhenti hanya pada penetapan administratif semata. Menurutnya, keberadaan geopark harus mampu memberi dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar sehingga kelestarian kawasan tetap terjaga.
Pengembangan kawasan geoheritage mangan Kliripan-Karangsari kini menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah. Salah satu rencana yang disiapkan yakni pembangunan Museum Mangan Kliripan sebagai sarana edukasi sekaligus penguatan wisata minat khusus di Kulon Progo.
“Ini potensi yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Dan yang menarik justru Kulon Progo saat ini belum punya museum. Satu-satunya kabupaten kota yang belum punya museum di DIY tinggal Kulon Progo, maka kalau ini kita kaitkan antara potensi yang ada di Kliripan dengan cita-cita kita memiliki museum ini sangat klop gitu. Nah, tinggal bagaimana kita kemudian memperbesar peran masyarakat agar dorongannya semakin kuat,” urau Joko Mursito, usai menjadi narasumber pada Talkshow Radio Edukasi Cagar Budaya “Mengenalkan Eks Tambang Mangan Kliripan – Karangsari” di Rumah Arsip Kliripan , Kliripan Hargorejo Kokap Kulon Progo , Selasa (12/5/2026).
Pemerintah juga telah melakukan restorasi di sejumlah titik bekas tambang mangan serta mengumpulkan berbagai arsip penting terkait sejarah pertambangan di Kliripan. Dari empat titik utama bekas tambang, dua di antaranya yakni PPTM dan Holiday telah direstorasi.
“Ada empat titik bekas lokasi tambang mangan di Kliripan ini yaitu titik Sunoto, PPTM, Holiday, kemudian ada satu lagi di rumah arsip ini. Nah, yang sudah kita coba untuk sentuh adalah PPTM dan Holiday sudah kita restorasi. Yang dua lainnya ini menunggu kita lakukan restorasi atau nanti atau rehab atau apa pun nanti,” terang Joko lagi.
Joko Mursito menambahkan, sebelumnya pemerintah daerah juga sempat menganggarkan pembebasan lahan untuk pengembangan kawasan geoheritage tersebut. Namun rencana itu tertunda akibat kebijakan efisiensi anggaran.
“Dulu angkanya kalau tidak salah sekitar 8,5 miliar jadi bayangan kita ini sudah kelar urusan dengan lahan terus kita sudah bisa membangun di tahun berikutnya tetapi karena efisiensi ya ini kita nunggu perkembangan dari efisiensi itu. Mudah-mudahan ini tetap menjadi prioritas di DIY,” tandasnya.
Ahli Geologi Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY), Dr. Brany Kurnianto, ST MT menjelaskan kawasan mangan Kliripan-Karangsari merupakan salah satu dari tiga kawasan tambang mangan di Indonesia selain di NTT dan Sulawesi. Ia menyebut kandungan mangan di Kliripan sejak zaman Belanda dikenal sebagai yang terbaik di DIY dengan kadar mencapai 60 persen.
Selain memiliki bekas tambang yang masih terlihat jelas, kawasan ini juga didukung keberadaan saksi hidup sejarah pertambangan mangan sehingga sangat potensial menjadi destinasi wisata edukasi berbasis geoheritage.
“Dan di sini kita akan menemukan bekas-bekas tambang, bekas terowongan yang memang masih eksis yang masih kita bisa saksikan bersama. Itu ada beberapa tempat yang cukup bagus untuk edukasi,” terangnya.
“Saksi hidup yang masih ada sampai sekarang, masih fasih bahasa Jepang, dia juga bisa sebagai saksi mata nggih. Artinya itu poin yang cukup penting untuk satu tempat yang ditetapkan sebagai cagar budaya itu luar biasa,” tandasnya.
Dr. Brany menilai langkah DIY yang memilih menjadikan kawasan ini sebagai geoheritage dibanding membuka kembali aktivitas penambangan merupakan keputusan tepat demi kepentingan edukasi generasi mendatang.
“Jadi memang istimewa Yogyakarta adalah kita tidak lagi menambang, tapi menjadikan ini sebagai tempat heritage. Artinya warisan ini kalau ditambang pasti habis, tapi kalau dijadikan heritage pasti akan banyak adik-adik yang belajar tentang mangan di Jawa khususnya ya. Artinya adik-adik kita dari SD sampai nanti kuliah tidak perlu ke NTT, tidak perlu ke Sulawesi, tapi di rumahnya sendiri, di belakang rumah arsip ini ada banyak tempat yang singkapan masih ada. Singkapan dari mangan yang memang dulu ditambang dan sampai sekarang belum berubah. Artinya masih hitam dan masih setia menunggu untuk difoto-foto, masih setia menunggu untuk dipelajari dengan adik-adik sekolah semuanya begitu,” urainya.
Sementara itu, Dukuh Kliripan Setya Haryanta mengatakan masyarakat menyambut baik rencana pembangunan museum dan kawasan cagar budaya geoheritage tambang mangan Kliripan. Menurutnya, keberadaan museum akan meningkatkan kunjungan wisata sekaligus mendukung perekonomian warga sekitar.
” Harapannya bisa segera bisa segera terwujud adanya museum pendukung geoheritage eks tambang mangan Kliripan – Karangsari agar menjadi media edukasi sehingga semakin menarik kunjungan ke kawasan geopark tambang mangan Kliripan ini. Dengan begitu akan bisa mendongkrak kesejahteraan dan perekonomian warga masyarakat Padukuhan Kliripan,” katanya.
Warga bersama Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis) dan Desa Wisata Hargorejo juga mulai mengembangkan berbagai kegiatan wisata edukatif di kawasan geoheritage tersebut, mulai dari jelajah terowongan bekas tambang hingga wisata budaya dan UMKM lokal.(prg,wur)






