DPRD Kulon Progo Pertanyakan Kualitas Proyek SD Bugel Senilai Rp3 Miliar, Kontraktor Didesak Tuntaskan Perbaikan

Komisi III DPRD Kulon Progo meninjau kondisi gedung baru SD Bugel yang sudah rusak padahal baru selesai dibangum akhir 2025 lalu. (Foto : HumasSetwanKP)

Kulon Progo – Komisi III DPRD Kulon Progo mempertanyakan kualitas hasil pembangunan gedung baru SD Bugel , Panjatan, Kabupaten Kulon Progo.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kulon Progo, Pancar Topodriyo menyebut proyek yang dibiayai Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai sekitar Rp3 miliar itu dinilai masih menyisakan sejumlah pekerjaan yang tidak sesuai harapan, meski bangunan telah memasuki masa pemeliharaan akhir.

Politisi PDI Perjuangan Kulon Progo ini menyayangkan masih ditemukannya berbagai kekurangan pada bangunan sekolah yang seharusnya menjadi fasilitas pendidikan yang aman dan nyaman bagi siswa.

“Kalau melihat anggaran yang digunakan, tentu masyarakat berharap hasil pembangunan benar-benar berkualitas. Namun di lapangan masih ditemukan beberapa pekerjaan yang perlu diperbaiki karena belum memenuhi standar yang diharapkan,” kata Pancar dalam keterangan tertulisnya kepada suarapasar.com Kamis (25/6/2026).

Dari hasil peninjauan, sejumlah persoalan terlihat secara kasat mata. Plafon bangunan tampak tidak rata yang diduga akibat pemasangan rangka atap yang kurang presisi. Selain itu, kualitas pengecatan dinilai belum maksimal karena warna cat terlihat tidak merata pada beberapa bagian dinding.

Tidak hanya itu, DPRD juga menemukan adanya retakan-retakan kecil pada tembok bangunan. Meski belum berdampak pada struktur bangunan, kondisi tersebut dinilai menunjukkan bahwa pelaksanaan pekerjaan perlu mendapat perhatian serius.

“Retakan-retakan kecil memang terlihat sederhana, tetapi ini tetap harus menjadi perhatian. Bangunan sekolah harus dibangun dengan kualitas terbaik karena akan digunakan dalam jangka panjang,” ujarnya.

Aspek estetika bangunan juga tidak luput dari sorotan. Menurut Pancar, penggunaan material yang berbeda antara pintu dan jendela membuat tampilan bangunan kurang serasi. Jendela dan jalusi menggunakan bahan aluminium, sementara pintu dibuat dari kayu.

Komisi III DPRD Kulon Progo meninjau kondisi gedung baru SD Bugel yang sudah rusak padahal baru selesai dibangum akhir 2025 lalu. (Foto : HumasSetwanKP)

“Selain fungsi, bangunan sekolah juga perlu memperhatikan keserasian. Saat ini terlihat ada ketidakharmonisan pada pemilihan material sehingga mengurangi nilai estetika bangunan,” katanya.

Lebih lanjut, DPRD meminta kontraktor tidak mengabaikan seluruh catatan yang telah dituangkan dalam berita acara pemeriksaan oleh Dinas Pendidikan. Dengan masa pemeliharaan yang akan berakhir pada 30 Juni, kontraktor dinilai harus bergerak cepat menyelesaikan seluruh pekerjaan yang masih menjadi temuan.

“Kami meminta kontraktor segera menindaklanjuti seluruh rekomendasi yang diberikan Dinas Pendidikan. Waktu yang tersisa sangat singkat sehingga tidak ada alasan untuk menunda perbaikan,” tegas Pancar.

Ia menekankan bahwa seluruh kekurangan harus diselesaikan sebelum masa pemeliharaan berakhir agar pemerintah daerah tidak menerima bangunan yang masih menyisakan persoalan kualitas.

“Jangan sampai bangunan diserahterimakan dalam kondisi masih banyak catatan. Kontraktor harus bertanggung jawab menyempurnakan pekerjaan sesuai spesifikasi dan standar mutu yang telah ditetapkan,” tandasnya.

DPRD berharap proses perbaikan dapat segera dituntaskan sehingga gedung SD Bugel benar-benar layak digunakan sebagai sarana pendidikan. Dengan kondisi bangunan yang aman, nyaman, dan berkualitas, kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung optimal tanpa menimbulkan kekhawatiran bagi siswa, guru, maupun orang tua. (Wds/drw)