Bantul, suarapasar.com – Pembangunan Groundsill Srandakan di aliran Sungai Progo terus dikebut dan hingga Juni 2026 telah mencapai progres 77,35 persen. Proyek senilai Rp213 miliar tersebut ditargetkan rampung pada akhir tahun untuk memperkuat perlindungan terhadap infrastruktur sungai, sistem irigasi, dan penyediaan air baku di wilayah Bantul dan Kulon Progo.
Komisi C DPRD DIY meninjau langsung lokasi pembangunan pada Kamis (25/6/2026) guna memastikan pelaksanaan proyek berjalan sesuai target. Groundsill baru dibangun menggantikan bangunan lama yang rusak akibat banjir besar pada awal 2025.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sungai dan Pantai II Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), Dicky Maulana, menjelaskan bahwa pekerjaan konstruksi kini difokuskan pada penyelesaian sisi barat Sungai Progo.
“Konstruksi utama atau main dam di sisi timur Sungai Progo sudah selesai. Saat ini pekerjaan difokuskan pada penyelesaian main dam dan sub dam di sisi barat yang berada di wilayah Kabupaten Kulon Progo,” ujarnya.
Menurut Dicky, groundsill sepanjang 300 meter tersebut dirancang dengan konstruksi yang lebih kuat dibanding bangunan sebelumnya agar mampu menahan gerusan aliran Sungai Progo.
Ia optimistis target penyelesaian proyek dapat tercapai karena proses konstruksi berlangsung pada musim kemarau yang mendukung kelancaran pekerjaan.
“Musim kemarau menjadi waktu yang sangat efektif karena debit sungai lebih rendah. Kami targetkan pekerjaan utama selesai sebelum musim penghujan sehingga akhir tahun nanti tinggal menyelesaikan pekerjaan pendukung,” katanya.
Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY, Amir Syarifudin, berharap momentum musim kemarau dimanfaatkan secara maksimal agar proyek selesai sesuai jadwal dan manfaatnya segera dirasakan masyarakat.
“Juni hingga Agustus merupakan masa yang tepat untuk mempercepat pekerjaan. Kami berharap proyek ini dapat selesai sesuai kontrak sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat,” kata Amir.
Selain memantau progres pembangunan, DPRD DIY juga menekankan pentingnya pengawasan kawasan Sungai Progo setelah proyek selesai. Anggota Komisi C DPRD DIY, Aslam Ridlo, menilai kualitas konstruksi groundsill yang baru jauh lebih baik karena diperkuat dengan pondasi yang lebih kokoh.
“Konstruksi yang baru ini jauh lebih kuat. Harapannya dapat bertahan lebih lama dan mampu mengantisipasi gerusan sungai yang selama ini menjadi tantangan,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa ketahanan bangunan juga bergantung pada pengelolaan kawasan sungai secara berkelanjutan, termasuk pengawasan terhadap aktivitas penambangan.
“Kami berharap ada sinergi antara pemerintah daerah, instansi teknis, dan para pelaku usaha penambangan agar aktivitas yang dilakukan tidak berdampak pada konstruksi groundsill,” katanya.
Senada dengan itu, Anggota DPRD DIY, Lilik Syaiful Ahmad, mengajak seluruh pihak menjaga groundsill sebagai aset publik yang dibangun menggunakan anggaran negara.
“Kalau dirawat bersama, groundsill ini bisa bertahan hingga 10 tahun tanpa perbaikan. Ini aset bersama yang harus dijaga agar anggaran yang sudah dikeluarkan negara tidak sia-sia dan manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” tegas Lilik.
Dengan progres pembangunan yang telah melampaui tiga perempat pekerjaan, Groundsill Srandakan diharapkan segera beroperasi untuk menjaga stabilitas Sungai Progo, melindungi infrastruktur sungai, serta menjamin keberlanjutan pasokan air irigasi dan air baku bagi masyarakat di Bantul dan Kulon Progo.(prg,wur)








