Yogyakarta, suarapasar.com — Youth Mental Health Summit 2026 yang berlangsung pada 16 Mei 2026 di PDIN Pusat Industri Nasional Yogyakarta menghadirkan semangat baru gerakan anak muda dalam isu kesehatan mental dan inklusi sosial. Melalui program SHINE (Spirit of Hope, Inclusion, and Nurturing Equality), ratusan pelajar SMP dan SMA dipersiapkan menjadi volunteer pendamping bagi keluarga penyandang disabilitas.
Komunitas SHINE yang diinisiasi para pelajar SMA Masa Depan bersama dukungan Disdikpora DIY dan Forum Komunikasi Pengurus OSIS DIY kini diperluas untuk seluruh remaja SMP dan SMA di DIY. Program tersebut lahir melalui kerja sama dengan Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) dan mendapat supervisi dari Center for Public Mental Health Universitas Gadjah Mada (CPMH UGM).
Keterlibatan CPMH UGM dilakukan setelah adanya permintaan dari WKCP kepada Fakultas Psikologi UGM untuk memberikan dukungan psikologis kepada keluarga penyandang disabilitas. Gerakan volunteerisme remaja dinilai menjadi langkah strategis yang berkelanjutan dalam memperkuat sistem kesehatan mental masyarakat.
Acara ini secara resmi dibuka dan didukung Pemerintah Kota Yogyakarta. Wali Kota Yogyakarta yang berhalangan hadir diwakili dr. Lana Unwanah untuk meresmikan rangkaian Youth Mental Health Summit 2026 sekaligus menyampaikan dukungan terhadap gerakan anak muda di bidang kesehatan mental dan pemberdayaan keluarga penyandang disabilitas.
Youth Mental Health Summit 2026 terdiri dari tiga program utama, yakni SHINE (Spirit of Hope, Inclusion, and Nurturing Equality), Pelatihan Peer Counsellor se-DIY, dan AMSAC (Adolescent Mental Stability Advocation Campaign). Di antara ketiganya, SHINE hadir sebagai gerakan yang berfokus pada pemberdayaan keluarga penyandang disabilitas, pembangunan lingkungan inklusif, serta penguatan kesehatan mental keluarga melalui gerakan volunteerisme remaja.
Dalam pelaksanaannya, SHINE berkolaborasi dengan WKCP yang menghadirkan keluarga penyandang cerebral palsy, pendamping, dan narasumber inspiratif. Kolaborasi ini juga mendapat dukungan CPMH UGM sebagai bentuk sinergi bersama dalam mendukung kesehatan mental keluarga penyandang disabilitas.
Dalam sesi talkshow, para orang tua anak penyandang cerebral palsy membagikan kisah perjuangan mereka mendampingi anak bertumbuh di tengah stigma sosial, tekanan lingkungan, hingga tantangan emosional sehari-hari. Suasana haru terasa ketika peserta mendengarkan langsung cerita perjuangan para keluarga yang selama ini berjuang dalam diam.
Acara tersebut juga menghadirkan narasumber inspiratif, di antaranya Safrina, seorang guru penyandang cerebral palsy yang berhasil menyelesaikan pendidikan hingga jenjang S2, serta Andika yang telah menyelesaikan pendidikan S1. Meski harus merangkak saat naik ke panggung, kisah Andika disebut mampu menginspirasi para peserta. Kehadiran keduanya menjadi simbol bahwa keterbatasan tidak menghalangi seseorang untuk terus bertumbuh dan memberi manfaat bagi orang lain.
Melalui program SHINE, sebanyak 130 volunteer remaja resmi dipersiapkan untuk mendampingi keluarga penyandang disabilitas. Hingga saat ini, lebih dari 300 keluarga telah tergabung dalam jaringan pendampingan bersama WKCP dan para relawan.
Di akhir kegiatan, Ketua CPMH UGM Diana Setiyawati, Ph.D., Psikolog, secara resmi melantik para volunteer sebagai bagian dari gerakan kepedulian kesehatan mental dan inklusi sosial di masyarakat.
Dalam sesi temu bersama core team SHINE, Kamil Ramadhan menyampaikan bahwa SHINE dibentuk untuk membangun lingkungan yang lebih inklusif sekaligus menumbuhkan empati dan kepekaan sosial di kalangan generasi muda.
“Kami ingin menunjukkan bahwa anak muda juga bisa bergerak dan memberi dampak nyata. Harapannya, SHINE bisa terus bertumbuh menjadi komunitas besar bagi isu disabilitas dan kesehatan mental keluarga penyandang disabilitas.”
Sementara itu, Raisa Syahira menambahkan bahwa banyak keluarga penyandang disabilitas yang sebenarnya sedang berjuang secara mental dan emosional akibat tekanan sosial maupun lingkungan sekitar.
“Dalam kegiatan ini kami membawa keluarga-keluarga yang sebelumnya pernah kami dampingi bersama WKCP. Karena itu SHINE hadir bukan hanya untuk anak-anak disabilitas, tetapi juga untuk menjadi ruang dukungan dan penguatan emosional bagi keluarganya.”
Melalui Youth Mental Health Summit 2026, SHINE berharap gerakan volunteerisme remaja dapat terus berkembang dan menjadi langkah nyata dalam menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, sehat secara mental, dan saling menguatkan satu sama lain.(prg,wur)





