Sleman, suarapasar.com – Daerah Istimewa Yogyakarta resmi menjadi lokus internasional untuk penguatan ekosistem ekonomi inklusif melalui pembukaan rangkaian South-South and Triangular Cooperation on Inclusion and Economic Empowerment for Persons with Disabilities (SSTC IEE) 2025 di Mustika Yogyakarta Resort & Spa, Selasa (25/11). Program ini merupakan kerja sama antara Pemerintah Indonesia, Pemerintah Jerman melalui GIZ Indonesia dan ASEAN, serta Pemerintah Yordania dalam upaya memperkuat pemberdayaan disabilitas di tingkat global.
SSTC IEE merupakan kerja sama multilateral yang dimulai sejak 2024 dan berlangsung hingga 2027. DIY dipilih menjadi lokus karena dinilai memiliki ekosistem inklusi yang maju dan dapat menjadi model pembelajaran internasional. Acara pembukaan dihadiri Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda DIY, Aria Nugrahadi; Secretary-General of the Higher Council for the Rights of Persons with Disabilities Yordania, Muhannad Alazzeh; serta perwakilan berbagai kementerian dan lembaga terkait.
Aria Nugrahadi, mewakili Gubernur DIY, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada DIY. Ia menegaskan bahwa DIY telah memiliki perjalanan panjang dalam menguatkan penghormatan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas melalui Perda Nomor 5 Tahun 2022.
“DIY dipilih bukan tanpa alasan. Kami telah menempuh perjalanan panjang dalam menegakkan prinsip penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2022,” terangnya.
Pemda DIY juga telah membangun model ekosistem inklusi berbasis kolaborasi multipihak, mulai dari kelompok masyarakat sipil, kampus, komunitas disabilitas, hingga dunia usaha. Program pelatihan UMKM disabilitas dan dukungan pemasaran menjadi bagian dari penguatan ekonomi. Selain itu, upaya meningkatkan aksesibilitas ruang publik di kawasan Malioboro, Kotabaru, dan kawasan heritage terus dilakukan dengan fasilitas ramah disabilitas.
“Aksesibilitas adalah hak dasar warga,” tegas Aria.
Perguruan tinggi dan komunitas seni budaya turut memperkaya ekosistem inklusi melalui pendidikan inklusif, seni pertunjukan inklusif, dan teknologi bantu. Nilai budaya Hamemayu Hayuning Bawana terus menjadi landasan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi semua kalangan.
Sekretaris Ditjen Rehabilitasi Sosial Kemensos RI, Idit Supriadi Priatna, yang membacakan sambutan Mensos, menyebut DIY sebagai tempat yang tepat untuk memulai forum pembelajaran ini.
“Kegiatan ini memiliki tujuan mulia, yakni memperkuat inisiatif lokal dalam pemberdayaan ekonomi dan inklusi sosial penyandang disabilitas di Indonesia, Yordania, dan Jerman,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri Kemensetneg, Noviyanti, menjelaskan bahwa SSTC IEE berfokus pada penguatan ekosistem pemberdayaan ekonomi inklusif melalui pertukaran pengalaman dan peningkatan kapasitas.
“DIY telah berhasil mengembangkan praktik unggulan dalam regulasi responsif disabilitas, model layanan terpadu, serta penyediaan alat bantu adaptif,” jelasnya.
Tahun ini, SSTC IEE berlangsung pada 25–29 November 2025 dengan 22 peserta dari tiga negara. Kegiatan mencakup sesi panel kebijakan, diskusi tematik, peer learning, kunjungan lapangan ke lokasi praktik baik inklusi di DIY, serta agenda budaya lintas negara.((prg,wur)







