Yogyakarta (09/02/2026), suarapasar.com – Sebanyak 619 Taruna Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Yogyakarta resmi diterjunkan ke berbagai pelosok Indonesia untuk melakukan pemutakhiran data pertanahan. Penempatan taruna di berbagai provinsi ini diharapkan tidak hanya membantu memvalidasi data nasional, tetapi juga memberikan solusi bagi persoalan tanah di tingkat akar rumput.
Pelepasan taruna dalam program Kuliah Kerja Nyata Pertanahan–Praktik Tata Laksana Pertanahan Tematik tersebut dilakukan oleh Wakil Menteri ATR/BPN Ossy Dermawan bersama Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kampus STPN Yogyakarta, Senin (09/02). Kegiatan ini menjadi penanda penguatan sinergi antara penerapan teknologi digital dengan kearifan lokal dalam pengelolaan pertanahan.
Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa pengelolaan pertanahan tidak semata persoalan administrasi, melainkan laku memuliakan kehidupan. Menurutnya, KKN Pertanahan merupakan bentuk pendidikan yang menyatu dengan pengabdian kepada masyarakat, karena taruna tidak hanya belajar teori, tetapi terlibat langsung mendampingi pelayanan dan membantu penyelesaian persoalan pertanahan di lapangan.
“Dengan cara itulah, ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi hadir sebagai kemanfaatan,” kata Sri Sultan.
Sri Sultan menilai pelepasan taruna bukan sekadar seremoni, melainkan awal pengabdian yang sesungguhnya ketika para taruna berada di tengah masyarakat. Bagi Daerah Istimewa Yogyakarta, kehadiran taruna diharapkan mampu mendukung penataan administrasi pertanahan, pemutakhiran data, serta memastikan pengelolaan tanah yang akurat, transparan, dan bertanggung jawab.
“Kerja-kerja ini mungkin sunyi. Tidak selalu tampak di permukaan. Namun justru di sanalah fondasi keadilan dan kepastian hukum dibangun,” tutur Sri Sultan.
Ia juga berpesan agar taruna bekerja dengan hati, menjunjung tinggi kejujuran, menjaga etika, serta hadir sebagai pelayan masyarakat. Kegiatan ini diharapkan memperkuat tata kelola pertanahan yang modern, presisi, dan berorientasi pada pelayanan publik.
“Bekerjalah dengan hati. Junjung tinggi kejujuran. Jaga etika. Hadirlah sebagai pelayan masyarakat, bukan sekadar pelaksana tugas,” pesan Sri Sultan.
Sementara itu, Wakil Menteri ATR/BPN Ossy Dermawan menegaskan komitmen kementerian dalam menerjemahkan nilai-nilai tersebut melalui penguatan teknis dan sumber daya manusia. Ia menyebut kualitas SDM sebagai fondasi pembangunan nasional sebagaimana ditekankan Presiden RI Prabowo Subianto.
“Pengalaman lapangan seperti inilah yang membentuk aparatur pertanahan yang matang. Taruna diajak untuk tidak hanya terpaku pada aturan dan prosedur, tetapi memahami bahwa tanah menyangkut manusia, ruang hidup, dan dinamika sosial,” tegas Ossy.
Ossy juga menilai Yogyakarta sebagai ruang belajar yang unik karena taruna akan bersentuhan langsung dengan pengelolaan Tanah Kasultanan dan Tanah Pakualaman, sehingga kebijakan nasional dapat dipahami selaras dengan sejarah, budaya, dan kearifan lokal.
“Di Yogyakarta, kebijakan nasional harus berjalan selaras dengan sejarah, budaya, dan kearifan lokal. Ini adalah pelajaran penting tentang bagaimana administrasi modern dapat berjalan harmonis dengan tata kelola lokal,” tambahnya.
Selain itu, Wamen Ossy menitipkan sejumlah pesan kepada para taruna, mulai dari pentingnya eksplorasi lapangan sebagai sarana belajar terbaik, menjaga integritas dan karakter dalam berinteraksi dengan masyarakat, hingga kesadaran akan dampak jangka panjang dari data yang diperbarui sebagai bagian penting Sistem Pertanahan Nasional.
Program KKNP-PTLP ini diikuti 619 Taruna/Taruni Program Diploma IV Pertanahan Semester 6 yang terbagi dalam 80 kelompok. Sebanyak 285 taruna ditempatkan di DIY dengan fokus pemutakhiran data digital, validasi sertifikat lama, dan konsolidasi basis data. Sebanyak 304 taruna diterjunkan di Jawa Tengah untuk pembersihan dan pemutakhiran basis data demi kepastian hukum, sementara 30 taruna lainnya bertugas di Aceh serta Sumatera Utara dengan misi khusus restorasi data pertanahan pasca-bencana hidrometeorologi.(prg,wur)








