Umbulharjo, suarapasar.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta terus menggencarkan upaya pengurangan sampah dengan memaksimalkan pemilahan di tingkat Depo. Salah satu strategi yang tengah diuji coba adalah pemilahan langsung oleh penggerobak dan petugas di sejumlah titik Depo, seperti Mandala Krida, Lapangan Karang, THR Purawisata, dan Kotabaru.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menjelaskan, uji coba yang telah berjalan selama sepekan ini mencakup wilayah 21 kelurahan. Metode padat karya diterapkan dengan melibatkan pemilah sampah di Depo, bertujuan menurunkan volume sampah yang dibawa ke Unit Pengelolaan Sampah (UPS).
“Uji coba ini untuk melihat dampaknya terhadap penurunan volume sampah. Kombinasinya melalui pemilahan di Depo dan penggerobak, serta bertahap sampai pemilahan sejak dari rumah,” ungkap Hasto, Senin (21/7/2025) di Balai Kota Yogyakarta.
Salah satu inovasi menarik dilakukan di Depo Kotabaru, di mana 15 penggerobak diuji coba untuk tidak membawa selembar plastik pun ke Depo. Jika berhasil, mereka akan menerima insentif atau reward.
“Ini bagian dari edukasi. Kalau penggerobak sudah memilah dari awal, itu akan sangat mengurangi beban di Depo dan UPS,” lanjutnya.
Hasto mencontohkan keberhasilan Kemantren Pakualaman yang telah menerapkan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Dampaknya signifikan, dari semula menghasilkan 8 ton sampah per hari, kini hanya tersisa 2,5 hingga 3 ton.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono, menyebut volume sampah harian Kota Yogyakarta mencapai 250–260 ton, sementara kapasitas pengolahan hanya sekitar 190–200 ton. Artinya, perlu pengurangan sekitar 60–70 ton dari sumbernya.
“Strategi kami adalah pemilahan lanjutan di Depo. Residu akan dibawa ke UPS, anorganik ke Bank Sampah Induk, dan organik ke offtaker,” jelas Agus.
Dari uji coba ini, Depo Mandala Krida, Lapangan Karang, dan THR Purawisata berhasil mengurangi volume sampah yang dikirim ke UPS sebesar 0,7–1 ton per hari. Sementara pemilahan oleh penggerobak di Depo Kotabaru justru menunjukkan hasil lebih tinggi, yakni 1–1,3 ton per hari.
Agus menambahkan bahwa sampah anorganik bernilai ekonomi akan disalurkan ke bank sampah unit atau mitra daur ulang. Sedangkan organik akan diolah dengan metode seperti komposting, losida, biopori, atau dibawa secara terpisah oleh penggerobak menggunakan kantong khusus.
“Dengan memilah sejak dari rumah, masyarakat membantu mengurangi beban sistem pengelolaan sampah kota. Ini bukan hanya strategi teknis, tapi gerakan budaya baru dalam mengelola sampah,” tutupnya. (Jul)







