Kulon Progo, suarapasar.com – Dalam rangka menyambut hari ulang tahun ke-43, RSUD Wates menggelar Forum Konsultasi Publik dengan tema “Pemanfaatan Teknologi Minimal Invasif untuk Peningkatan Pelayanan Pasien” Acara ini bertujuan memberikan gambaran langsung kepada masyarakat mengenai inovasi layanan kesehatan terbaru yaitu operasi minim sayatan sekaligus melakukan evaluasi terhadap pelayanan yang telah berjalan,bertempat di Auditorium Gedung Baru RSUD Wates, Rabu (3/2/2026).
Direktur Utama RSUD Wates, dr. Eko Budiyanto, M.Kes., Sp.An, menyampaikan bahwa rumah sakit saat ini berfokus mengembangkan Teknologi Minimal Invasif sebagai layanan unggulan. Teknologi ini memungkinkan tindakan operasi dilakukan dengan sayatan sangat kecil menggunakan alat dan monitor khusus, sehingga mengurangi risiko pembedahan terbuka. Meski memerlukan investasi besar, manfaatnya dirasakan langsung oleh pasien.
”Manfaat dari teknologi ini minim rasa sakit jadi luka sayatan yang sangat kecil sehingga meminimalkan nyeri, pemulihan cepat, proses penyembuhan organ jauh lebih singkat, presisi tinggi, penanganan pada area operasi lebih akurat dan rawat inap singkat, efisiensi waktu bagi pasien dan keluarga,” terang dr. Eko.
Ia menjelaskan, hampir seluruh layanan spesialis di RSUD Wates telah mengadopsi teknologi minimal invasif, mulai dari bedah umum, ortopedi, urologi, kebidanan dan kandungan, hingga spesialis paru. Layanan tersebut juga telah ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir mengenai biaya.
“Layanan minimal invasif yang lengkap ini menjadikan RSUD Wates sebagai salah satu rujukan yang mampu bersaing dengan rumah sakit besar lainnya di Yogyakarta,”jelas dr. Eko.
Sementara itu, Bupati Kulon Progo, Dr. R. Agung Setyawan, ST., M.Sc., MM, mengapresiasi peningkatan kinerja RSUD Wates yang dinilai terus berkembang secara bertahap. Ia menyebut capaian tersebut sebagai langkah strategis menuju layanan rumah sakit berstandar internasional, seiring dukungan fasilitas penunjang seperti helipad untuk layanan kegawatdaruratan.
“Kita sudah memiliki fasilitas pendukung seperti helipad untuk layanan emergency cepat. Hal ini selaras dengan rencana besar pembangunan daerah, apalagi kita memiliki Bandara Internasional (YIA) yang menuntut standar pelayanan kesehatan tingkat nasional hingga internasional,” ujar Agung.
Agung menegaskan bahwa tujuan utama pengembangan teknologi kesehatan tetap untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. “Indikator keberhasilan kita bukan dari ramainya rumah sakit, melainkan dari menurunnya jumlah orang sakit melalui penguatan layanan preventif,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas pelayanan, khususnya dalam pemberian obat dan resep, agar masyarakat memperoleh layanan yang berkualitas dan berkeadilan.
“Orang akan berupaya dengan cara apapun untuk sehat. Dengan layanan yang semakin baik dan kredibel, masyarakat akan merasa tenang dan percaya untuk berobat di sini,” tutup Agung.(prg,wur)






