Kanker masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia dan menempati peringkat ketiga setelah stroke dan penyakit jantung. Berdasarkan data Globocan dan Kementerian Kesehatan, angka kematian akibat kanker di Indonesia diperkirakan mencapai 234.000 hingga 242.000 kasus per tahun. Tingginya beban kanker dipengaruhi oleh banyaknya pasien yang baru terdiagnosis pada stadium lanjut, sehingga pilihan terapi menjadi terbatas dan hasil pengobatan kurang optimal. Rendahnya kesadaran terhadap gejala awal serta minimnya deteksi dini turut memperberat upaya penanganan. Momentum Hari Kanker Sedunia yang diperingati setiap 4 Februari menjadi refleksi atas tantangan tersebut, sekaligus menegaskan peran penting dokter spesialis bedah subspesialis onkologi dalam menentukan strategi penanganan yang tepat.
Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Onkologi Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), dr. R. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B., Subsp.Onk(K), menyampaikan bahwa penanganan kanker memerlukan ketepatan waktu, pendekatan ilmiah, serta kesiapan sistem layanan kesehatan. Menurut Tomo, jenis kanker yang paling sering membutuhkan tindakan bedah di Indonesia masih didominasi kanker payudara, kolorektal, tiroid, kanker kepala dan leher, serta kanker ginekologi. Jenis kanker tersebut kerap menyerang kelompok usia produktif sehingga berdampak luas secara sosial dan ekonomi. Ketika pasien datang dalam kondisi penyakit yang telah berkembang, tindakan bedah menjadi lebih kompleks dan berisiko.
“Sebagian besar pasien datang pada stadium lanjut, sehingga tindakan bedah yang dilakukan sering kali lebih kompleks,” ujar Tomo, Kamis (5/2).
Ia menekankan bahwa deteksi dini memegang peran sangat penting dalam keberhasilan tindakan bedah kanker. Pada stadium awal, menurutnya, kanker masih terlokalisasi sehingga memungkinkan tindakan bedah kuratif. Kondisi tersebut memberi peluang hasil yang lebih baik dan risiko komplikasi yang lebih rendah. Sebaliknya, keterlambatan diagnosis membatasi pilihan terapi yang tersedia.
“Pada stadium awal, kanker memungkinkan tindakan bedah kuratif dengan peluang hidup yang jauh lebih baik,” ujar Tomo.
Dalam praktiknya, tantangan penanganan kanker tidak hanya berkaitan dengan aspek medis. Tomo menjelaskan bahwa banyak pasien datang dengan kondisi fisik yang telah menurun, sehingga menyulitkan proses tindakan dan pemulihan. Faktor psikologis pasien dan keluarga juga memengaruhi pengambilan keputusan medis. Selain itu, keterbatasan fasilitas penunjang serta koordinasi lintas disiplin masih menjadi tantangan tersendiri.
“Tantangan terbesar adalah pasien datang terlambat dengan kondisi umum yang sudah menurun,” tuturnya seperti dikutip dari laman Universitas Gadjah Mada.
Di sisi lain, ketakutan masyarakat terhadap operasi kanker masih menjadi hambatan besar. Berbagai informasi yang tidak utuh kerap memunculkan anggapan bahwa tindakan bedah justru mempercepat penyebaran kanker. Tomo menegaskan bahwa edukasi berbasis bukti ilmiah perlu terus diperkuat. “Operasi dengan indikasi dan teknik yang tepat justru menjadi salah satu pilar utama penyembuhan kanker,” kata Tomo.
Perkembangan teknologi kedokteran juga membawa perubahan signifikan dalam praktik bedah onkologi. Teknik bedah minimal invasif serta pendekatan multimodal dinilai mampu meningkatkan keselamatan pasien, mempercepat pemulihan pascaoperasi, dan memberikan hasil fungsional yang lebih baik. Menurut Tomo, tujuan bedah kanker kini tidak hanya berfokus pada penyembuhan, tetapi juga pada kualitas hidup pasien. “Tujuan bedah onkologi kini menjaga fungsi dan kualitas hidup pasien,” jelasnya.
Pada peringatan Hari Kanker Sedunia, Tomo mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan dan tidak mengabaikan gejala awal penyakit. Ia menegaskan bahwa kanker bukan lagi penyakit yang selalu berujung pada kematian jika ditangani sejak dini. Kesadaran untuk melakukan skrining dan konsultasi medis lebih awal dinilai dapat meningkatkan peluang terapi yang efektif. “Deteksi dini menyelamatkan nyawa, memberi peluang terapi yang lebih efektif, dan membuka harapan hidup yang lebih panjang bagi pasien kanker,” pungkasnya.(prg,wur)








