Sleman, suarapasar.com – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa neurorehabilitasi adalah perwujudan nyata filosofi Jawa “nguwongke” atau memanusiakan manusia. Menurutnya, kemajuan teknologi kedokteran, digital, dan kecerdasan buatan memang membuka jalan baru dalam rehabilitasi saraf, tetapi aspek kemanusiaan tetap harus menjadi unsur utama.
Hal itu disampaikan Sri Sultan dalam Opening Ceremony The 6th Asia Oceanian Congress of NeuroRehabilitation (AOCNR) 2025 yang dirangkaikan dengan Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia XXIV (PIT PERDOSRI XXIV), Kamis (4/9/2025), di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center, Sleman. Acara internasional ini berlangsung pada 3–7 September 2025, menghadirkan pakar dari berbagai negara di kawasan Asia-Oseania.
“Setiap pasien bukan sekadar obyek terapi, melainkan subyek yang memiliki harapan, cerita, dan semangat untuk kembali menjalani kehidupan yang bermakna. Bagi saya, inilah esensi yang paling mulia dari kongres ini mengingatkan kita semua, bahwa inovasi sejati bukan hanya soal menemukan terapi baru atau membangun fasilitas canggih, tetapi tentang memastikan bahwa setiap pasien dapat kembali menjalani hidup dengan harga diri dan harapan,” ujar Sri Sultan.
Ia memaparkan, data WHO menunjukkan lebih dari 1 miliar orang di dunia terdampak penyakit neurologis, dengan stroke sebagai penyebab kematian kedua secara global. Lebih dari setengah penyintas stroke pun hidup dengan disabilitas jangka panjang. Menurutnya, hal ini membuktikan rehabilitasi bukan layanan tambahan, melainkan bagian inti dari sistem kesehatan.
Sri Sultan menyoroti berbagai inovasi, mulai dari tele-rehabilitation yang mampu meningkatkan akses pasien hingga 60 persen di wilayah terpencil, terapi berbantuan robot untuk pemulihan motorik, hingga pemanfaatan Virtual Reality (VR) dan wearable devices untuk memotivasi pasien berlatih sekaligus memungkinkan pemantauan secara real-time. Meski begitu, ia menekankan bahwa teknologi hanyalah jembatan, sedangkan empati serta solidaritas adalah fondasi utama.
“Semoga diskusi, workshop, dan pertemuan yang berlangsung selama beberapa hari ke depan akan memperkaya wawasan dan memperkuat tekad untuk menghadirkan rehabilitasi yang lebih manusiawi, inklusif, dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Ketua Panitia AOCNR 2025 sekaligus Ketua PP PERDOSRI, dr. Rumaisah Hasan, menjelaskan bahwa tema tahun ini adalah “Neurorehabilitation: Future Trends from Hospital to Community”. Selain simposium dan workshop, kegiatan juga mencakup seminar gratis untuk masyarakat, bakti sosial, serta lomba senam dan tarian berbasis budaya tradisional sebagai media terapi.
Rumaisah mengungkapkan, Indonesia kini memiliki tujuh pusat pendidikan dokter spesialis rehabilitasi dengan total 1.300 dokter. Jumlah tersebut termasuk signifikan di Asia, namun masih ada keterbatasan karena belum tersedia pusat rehabilitasi terpadu maupun unit sub-akut.
“Karena pasien-pasien itu kalau mengalami gangguan atau sakit, setelah selesai masanya dipulangkan. Misalnya pasien stroke, setelah pengobatan strokenya aman, dipulangkan kan. Padahal belum bisa jalan, belum bisa ngapa-ngapain. Itu sebenarnya tugasnya rehabilitasi medis,” jelasnya.
Menurutnya, PERDOSRI berkomitmen menjadi agen perbaikan di bidang fungsi, bukan hanya kesehatan fisik, tetapi juga mental, ekonomi, dan partisipasi sosial. “Sehat berarti mampu berpartisipasi aktif dan memberikan manfaat di masyarakat. PERDOSRI hadir di situ,” pungkasnya.(prg,wur)








