Tekan Penyakit Paru, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Siap Gandeng Kader

Yogyakarta (suarapasar.com) – Meskipun angka tuberkulosis (TBC) di Yogyakarta mengalami perbaikan, angkanya masih tergolong tinggi. Selain TBC, penyakit paru akibat rokok juga masih mendominasi kasus di lapangan.

 

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mendorong Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) melibatkan kader masyarakat di tingkat kalurahan dan kapanewon sebagai penyuluh kesehatan.

 

Ketua PDBI Cabang Yogyakarta, dr. Megantara, Sp.P, mengakui jumlah PDPI masih sangat terbatas, baru 33 orang.

 

Karena keterbatasan itu, PDPI berencana melibatkan kader-kader lokal sebagai bagian dari sistem edukasi kesehatan masyarakat.

 

“Kami diminta oleh Ngarsa Dalem untuk mendidik atau mentransfer ilmu kami kepada kader-kader di PKK, di kelurahan, di kecamatan, supaya mereka juga bisa menjadi penyuluh. Karena mereka yang langsung berinteraksi dengan masyarakat,” ujar dr. Megantara usai pertemuan dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X  di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, pada Kamis (17/07/2025).

 

“Beliau tadi menyarankan agar kami memberikan ilmu kami kepada beberapa kader yang ada di kelurahan maupun kecamatan. Model seperti ini, kalau memang berjalan, bisa jadi contoh untuk daerah lain,” lanjutnya.

 

PDPI berharap pendekatan yang melibatkan kader masyarakat ini bisa menjadi solusi jangka panjang untuk memperkuat sistem edukasi kesehatan, khususnya dalam bidang pulmonologi.

 

“Kalau kami kerjakan sendiri rasanya belum mampu. Tentu tidak cukup tenaga, waktu, maupun kemampuan kami. Tapi kalau dibantu kader, ini bisa jadi kekuatan baru,” tutup dr. Mega.

 

Rencananya, PDPI akan menggelar Pertemuan Ilmiah Nasional selama tiga hari, pada 04 – 06 September mendatang. Kegiatan ini akan melibatkan berbagai elemen di dunia kedokteran. Kegiatan ini juga akan diramaikan dengan lomba lari, pertunjukan musik, dan aktivitas penyegaran lainnya.

 

“Isinya nanti seminar, simposium, kemudian kegiatan ilmiah dan non-ilmiah. Hiburan juga ada. Tetapi fokusnya adalah keilmiahan, penyegaran ilmu yang sudah ada dan kebaruan-kebaruan. Untuk dokter umum, dokter spesialis baru, dan spesialis lainnya,” lanjutnya. (wur)