Guru Kulon Progo Lahirkan Buku Karakter, Padukan Nilai Nasional dan Kearifan Lokal

Kulon Progo, suarapasar.com – Momentum Syawalan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kulon Progo dimanfaatkan sebagai ajang peluncuran karya edukatif yang sarat makna, Rabu (8/4/2026). Kegiatan yang digelar di Kompleks TBK ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menandai lahirnya buku “Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” karya enam pendidik daerah.

Acara istimewa ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Kulon Progo H. Ambar Purwoko, Kepala Dinas Pendidikan Drs. Nur Wahyudi, M.M., jajaran pengurus PGRI, serta Kepala Sekolah SD dan SMP se-Kabupaten Kulon Progo.

Kehadiran buku ini memantik apresiasi mendalam dari jajaran pemerintah daerah. Bagi Wakil Bupati Kulon Progo, H. Ambar Purwoko, inisiatif para Guru ini lebih dari sekadar literasi, melainkan sebuah senjata untuk membangun peradaban.

“Melalui pemikiran dan ide Panjenengan untuk mencerdaskan generasi bangsa, insyaallah, itu adalah cara Kita untuk memotong mata rantai kemiskinan,” ungkap Ambar Purwoko dengan penuh haru.

Buku tersebut dinilai tidak sekadar menjadi bahan bacaan, tetapi juga panduan pembentukan karakter anak sejak dini dengan mengintegrasikan nilai adab, subasita, dan unggah-ungguh dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, Wakil Bupati Kulon Progo secara khusus meminta satu eksemplar untuk dijadikan referensi di ruang kerjanya.

Kepala Dinas Pendidikan Kulon Progo menegaskan bahwa lahirnya buku ini merupakan hasil dari kebijakan strategis pemerintah daerah melalui regulasi terkait pengembangan bahan ajar berbasis muatan lokal. Buku ini dinilai mampu menjembatani program nasional dengan konteks lokal melalui pendekatan Falsafah Binangun.

“Program nasional tentang tujuh kebiasaan baik ini ibarat sebuah kompas, namun Kita perlu peta yang kontekstual. Di sinilah letak keunggulan buku karya guru-guru Kita. Tidak sekadar mengadopsi, melainkan mengadaptasi dan mempertemukan spirit nasional dengan Falsafah Binangun yang merawat harmoni antara manusia, alam, budaya, serta semangat gotong royong,” papar Nur Wahyudi.

Ia juga berpesan agar karya ini tidak sekadar berakhir menjadi pajangan atau koleksi di rak perpustakaan. Buku ini harus menjadi panduan yang dibaca, diresapi, dan terejawantahkan dalam perilaku nyata anak-anak setiap hari.

Karya ini ditulis oleh enam pendidik dari berbagai sekolah di Kulon Progo yang berkolaborasi untuk menghadirkan bahan ajar berkarakter. Buku ini diharapkan dapat digunakan secara luas, bahkan hingga tingkat nasional, tanpa meninggalkan identitas lokal daerah.

“Harapan Kami sebagai penulis, buku ini betul-betul bisa membantu anak-anak, khususnya di Kulon Progo, menjadi anak Indonesia hebat yang berkarakter. Tujuh kebiasaan anak Indonesia ini Kita kemas dengan muatan lokal khas Kulon Progo, sehingga bisa digunakan secara nasional namun tetap membawa ruh dan ciri khas daerah kita tercinta,” jelas Arifien Zuhri.

Dengan lahirnya “Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, Kulon Progo kembali membuktikan diri sebagai lumbung inovasi pendidikan. Melalui literasi yang membumi, generasi penerus tidak hanya disiapkan untuk mampu bersaing di era globalisasi, tetapi juga tetap memegang teguh akar budayanya.(prg,wur)