Yogyakarta (08/04/2026), suarapasar.com – Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menegaskan bahwa kepemimpinan tidak sekadar soal kekuasaan, melainkan tentang menjaga keseimbangan antara kemajuan, keadilan, dan kemaslahatan bersama. Hal tersebut disampaikan saat membacakan sambutan Gubernur DIY dalam pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan VIII Tahun 2026 di Kompleks Kepatihan Yogyakarta.
Ni Made menyampaikan bahwa kepemimpinan modern menuntut kemampuan membaca situasi yang kompleks serta membangun organisasi yang adaptif dan terus belajar. Ia juga menekankan bahwa konsep kepemimpinan berbasis makna dan nilai sejatinya telah lama tertanam dalam kearifan lokal Yogyakarta.
Hal demikian ditegaskan Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti saat membacakan sambutan Gubernur DIY dalam pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan VIII Pemerintah Daerah DIY Tahun 2026, Rabu (08/04), di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. “Di situlah kepemimpinan mencapai martabatnya: bukan sekadar sebagai jabatan, melainkan sebagai laku peradaban,” kata Ni Made.
Dalam paparannya, Ni Made menjelaskan bahwa kepemimpinan abad ke-21 menekankan pada kemampuan “sensemaking” serta penguatan organisasi pembelajar. Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan global seperti transformasi digital dan perubahan sosial.
Lebih lanjut, Ni Made menambahkan bahwa kepemimpinan saat ini harus mampu mengintegrasikan tiga aspek utama, yakni strategic leadership, operational excellence, dan moral grounding. Ketiganya dinilai menjadi fondasi penting agar organisasi tidak kehilangan arah, mampu mengeksekusi program dengan baik, serta tetap menjaga integritas dalam setiap kebijakan.
“Tanpa yang pertama, organisasi kehilangan arah. Tanpa yang kedua, visi tinggal menjadi wacana. Dan tanpa yang ketiga, kekuasaan kehilangan legitimasi. Kekuasaan yang tidak diiringi kesadaran, akan melahirkan keterputusan antara pemimpin dan rakyatnya. Maka kepemimpinan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi posisi seseorang, tetapi seberapa dalam ia mampu menjaga keseimbangan, antara kewenangan dan tanggung jawab,” jelas Ni Made.
Pelatihan ini diharapkan tidak hanya melahirkan pemimpin yang kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas dan orientasi pengabdian yang kuat. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai instansi pusat dan daerah, dengan tujuan memperkuat kompetensi kepemimpinan strategis dalam mendukung tata kelola pemerintahan yang adaptif dan berdaya saing.(prg,wur)







