Yogyakarta, suarapasar.com : Tingginya angka kematian akibat stroke di Indonesia masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Banyak kasus stroke yang terlambat ditangani karena rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal dan pentingnya penanganan cepat. Untuk menjawab tantangan ini, Dr. Firman Pribadi, M.Si., dosen Program Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), bekerja sama dengan Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PP Muhammadiyah dan RS PKU Gamping, menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Kewaspadaan Stroke Pre dan Intra Hospital” pada 13 April 2025 secara daring. Kegiatan ini melibatkan dosen dan mahasiswa Program Studi MARS UMY.
Webinar ini bertujuan untuk meningkatkan literasi masyarakat dan tenaga kesehatan tentang pentingnya deteksi dini stroke serta penanganan yang cepat dan tepat, baik sebelum pasien tiba di rumah sakit (fase pre-hospital) maupun selama perawatan di rumah sakit (fase intra-hospital). Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen UMY dalam memanfaatkan pengetahuan akademik sebagai solusi konkret atas permasalahan kesehatan di masyarakat.
Dr. Firman menegaskan bahwa stroke merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang memerlukan respons cepat, karena kerusakan otak dapat terjadi hanya dalam hitungan menit. Menurutnya, banyak kasus kematian atau kecacatan akibat stroke bukan disebabkan oleh keterbatasan layanan medis, melainkan karena minimnya pengetahuan masyarakat dalam mengenali dan merespons gejala awal.
“Penanganan stroke idealnya dilakukan dalam rentang tiga hingga empat setengah jam sejak gejala pertama muncul. Jika terlambat, risiko kecacatan permanen atau kematian meningkat secara signifikan,” ujarnya seperti dikutip dari laman umy Rabu (9/7/2025).
Ia menambahkan bahwa gejala-gejala seperti wajah mencong, bicara pelo, dan kelemahan pada satu sisi tubuh, harus menjadi pengetahuan dasar masyarakat. Edukasi tentang hal ini, menurutnya, tidak bisa hanya dibebankan pada tenaga medis, tetapi perlu disebarluaskan ke seluruh lapisan masyarakat agar deteksi dini bisa dilakukan sejak di lingkungan terdekat pasien.
“Edukasi ini penting agar gejala dapat dikenali lebih awal dan ditindaklanjuti segera,” tegasnya.
Dalam webinar tersebut, Firman juga menekankan pentingnya koordinasi antara sistem rujukan, keluarga pasien, dan fasilitas layanan kesehatan.
“Salah satu kesalahan umum adalah menunggu hingga kondisi memburuk sebelum membawa pasien ke rumah sakit. Padahal, setiap detik sangat menentukan. Webinar ini kami desain agar peserta benar-benar memahami urgensi penanganan stroke secara cepat,” jelasnya.
Webinar yang dipandu oleh dr. Yuriz Bachtiar, Pd.D., Sp.BS(K), menghadirkan pembicara kompeten di bidangnya, antara lain: Prof. dr. Muhamad Thohar Arifin, Ph.D., Sp.BS(K), dokter spesialis bedah saraf sekaligus mahasiswa MARS UMY; dr. Yovita Andhitara, Sp.N(K), M.Si.Med., FINS, dokter spesialis neurologi konsultan; Dr. Akhmad Suryonurafif, M.Ked.Klin., Sp.BS.; dan Ns. Anna Jumatul Laely, M.Kep., Sp.KMB, perawat senior dari RSUP Dr. Kariadi, Semarang.
Para pembicara memaparkan secara komprehensif prosedur penanganan stroke, mulai dari munculnya gejala awal hingga penanganan intensif di rumah sakit. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga dilengkapi dengan simulasi kasus nyata serta visualisasi situasi gawat darurat.
“Hal ini bertujuan agar peserta, baik dari kalangan medis maupun non-medis, memperoleh pemahaman yang aplikatif,” ujar Firman.
Selain menjadi media edukasi publik, kegiatan ini juga menjadi ajang aktualisasi peran mahasiswa dalam pengabdian masyarakat. Mahasiswa MARS UMY terlibat langsung dalam perencanaan, penyusunan materi edukatif, hingga pelaksanaan teknis kegiatan. Ini menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi juga bagian dari pembentukan kapasitas dan kepedulian sosial mahasiswa.
UMY melalui Prodi MARS berkomitmen untuk terus memperluas kontribusi di sektor kesehatan, khususnya dalam isu penyakit tidak menular yang membutuhkan pendekatan sistemik dan kolaboratif. Firman berharap kegiatan serupa tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan dalam membangun budaya tanggap darurat dan pencegahan penyakit secara lebih luas.
“Stroke bisa menyerang siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Oleh karena itu, membangun masyarakat yang waspada dan sigap adalah upaya kita bersama dalam menyelamatkan nyawa dan menjaga kualitas hidup,” pungkasnya.







