Kulon Progo, suarapasar.com : Di awal musim tanam pertama saat ini, petani di Kulon Progo diimbau mewaspadai adanya serangan tikus hingga penyakit pada tanaman padi.
Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulon Progo, Supomo mengatakan antisipasi terutama perlu dilakukan di Kapanewon Nanggulan dan Girimulyo. Sebab dua kapanewon ini merupakan daerah endemik bagi tikus.
“Produktivitas panen berpotensi menurun jika serangan tersebut tidak dikendalikan,” kata Supomo disela-sela pengendalian hama tikus di Bulak Pronosutan, Kembang, Nanggulan, Kulon Progo, Rabu (19/11/2025).
Gerakan pengendalian hama tikus mulai dilakukan seperti di kawasan Pronosutan. Menurut mengatakan ada beberapa teknik pengendalian hama tikus.
Yaitu, umpan beracun hingga emposan. Umpan beracun dan emposan memanfaatkan bahan aktif berupa belerang yang mematikan bagi tikus, namun tetap aman bagi tanaman padi.
“Emposan bisa dibuat secara mandiri dan biayanya lebih murah 50 persen dibandingkan beli siap pakai,” terangnya.
Saat ini serangan tikus memang masih minim. Namun perlu diwaspadai adanya serangan tikus saat tanaman padi mulai masuk fase persemaian alias generatif.
“Selain serangan tikus, pada musim penghujan ini juga harus mewaspadai serangan penyakit pada tanaman padi bisa berupa jamur dan bakteri,” lanjutnya.
Dukuh Pronosutan, Edi Darmawan mengatakan hama tikus bisa menyebabkan kerugian sekitar Rp 8 juta bagi petani. Kerugian muncul dari biaya pengeluaran petani untuk musim tanam padi yang bisa mencapai Rp 40 juta per hektare (ha).
Untuk mencegahnya, para petani di wilayahnya rutin melakukan pengendalian hama tikus bisa sampai 3 kali dalam satu kali musim tanam padi.
“Hasil panennya bisa sampai 8 ton per ha, tapi serangan tikus bisa membuat hasil panen menurun,” ungkap Edi. (wds/drw)







