JCW: Mural Kritik Korupsi Mandala Krida Merupakan Ekspresi Publik yang Perlu Dihargai

Yogyakarta, suarapasar.com – Munculnya mural bertema penuntasan kasus korupsi renovasi Stadion Mandala Krida Yogyakarta di sejumlah titik jalanan Kota Yogyakarta mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Di tengah belum jelasnya kelanjutan pembangunan stadion akibat persoalan anggaran dan kasus korupsi yang pernah menjerat sejumlah pihak, mural-mural tersebut dinilai menjadi bentuk kritik sosial yang lahir dari keresahan masyarakat.

Aktivis sosial sekaligus pegiat antikorupsi dari Jogja Corruption Watch (JCW), Baharuddin Kamba, menilai karya mural yang dibuat para seniman jalanan maupun suporter sepak bola tidak perlu disikapi secara berlebihan. Menurutnya, mural merupakan bagian dari kebebasan berekspresi sekaligus sarana penyampaian aspirasi publik terhadap persoalan yang hingga kini belum menemukan penyelesaian yang memuaskan.

“Mural itu merupakan bagian dari ekspresi dan kritik sosial yang menyampaikan keluhan masyarakat, termasuk para suporter sepak bola, terkait penuntasan kasus korupsi pembangunan renovasi Stadion Mandala Krida Yogyakarta,” ujar Baharuddin Kamba.

Ia menegaskan bahwa mural tidak dapat disamakan dengan tindakan melawan hukum. Sebaliknya, mural merupakan bentuk penyampaian pesan yang muncul akibat kekecewaan masyarakat terhadap berbagai persoalan publik yang belum terselesaikan.

Menurut Baharuddin, upaya menghapus mural bukanlah solusi untuk meredam kritik. Ia menilai selama persoalan utama belum mendapatkan penyelesaian yang jelas, ekspresi serupa akan terus muncul di berbagai tempat.

“Apabila mural-mural terkait penuntasan kasus korupsi pembangunan renovasi Stadion Mandala Krida dihapus, maka akan muncul mural-mural lainnya di lokasi berbeda. Yang perlu dilakukan bukan menghapus kritiknya, tetapi menghadirkan solusi atas persoalan Stadion Mandala Krida,” katanya.

JCW berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera memberikan kepastian mengenai kelanjutan pembangunan Stadion Mandala Krida agar fasilitas olahraga tersebut dapat kembali dimanfaatkan sebagaimana mestinya oleh masyarakat dan insan olahraga di Yogyakarta.

Sebelumnya, sejumlah seniman jalanan bersama suporter PSIM Yogyakarta menggelar aksi mural serentak di berbagai wilayah Yogyakarta pada Senin (1/6/2026). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kritik terhadap lambannya penuntasan kasus korupsi pembangunan renovasi Stadion Mandala Krida.

Belakangan, beredar informasi di media sosial melalui akun Instagram yang menyebut mural bertuliskan “Usut Tuntas Korupsi Mandala Krida” telah ditutup dengan cat hitam. Namun, tulisan “PSIM Jogja” yang berada di lokasi yang sama tidak ikut ditutupi. Informasi tersebut memicu beragam tanggapan dari masyarakat dan kalangan suporter yang menilai mural tersebut merupakan bentuk aspirasi publik terkait transparansi dan penegakan hukum dalam kasus korupsi yang menimpa stadion kebanggaan warga Yogyakarta tersebut.(prg,wur)