Kemampuan Pemda Dalam Hal Mitigasi Manajemen Resiko Bencana Harus Ditingkatkan

Sleman suarapasar.com :  Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sekaligus Guru Besar Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, menyampaikan bahwa Indonesia telah memiliki sistem peringatan dini yang bekerja sejak jauh hari sebelum bencana terjadi. BMKG mengeluarkan peringatan sejak September, lalu memperbaruinya pada 21 November dengan menyebutkan wilayah yang berpotensi terdampak. Menurutnya, tantangan muncul ketika kapasitas respons pemerintah daerah tidak berkembang secepat informasi yang diberikan.

“Early warning, early response. Peringatan dini harus selalu diikuti dengan respons dini,” ujarnya dalam Diskusi Pojok Bulaksumur yang bertajuk “Menelisik Penyebab dan Dampak Banjir Bandang Sumatra” di selasar Tengah Gedung Pusat UGM, Kamis (4/12/2025).

Dalam forum tersebut, Dwikorita menegaskan bahwa efektivitas mitigasi tidak berhenti pada kemampuan mendeteksi ancaman, tetapi pada kesiapan bertindak ketika peringatan telah disampaikan. Ia menjelaskan bahwa sistem informasi yang kuat perlu diimbangi dengan respon operasional yang bergerak cepat di tingkat daerah. Kesiapsiagaan harus berjalan seirama dengan dinamika cuaca ekstrem yang dapat berubah dari jam ke jam.

Kesiapan teknis di lapangan menjadi bagian yang sangat menentukan dalam mereduksi dampak bencana. Pemeriksaan tanggul, pengerukan sungai, pembersihan drainase, dan kesiapan alat berat merupakan langkah dasar yang perlu segera dilakukan. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa komunikasi kebencanaan di tingkat masyarakat masih belum optimal.

“Istilah siaga sering tidak dipahami masyarakat sehingga responsnya tidak muncul pada waktu yang dibutuhkan,” kata Dwikorita.

Dari perspektif kesehatan, Bayu Satria Wiratama, M.P.H., Ph.D., mengingatkan bahwa 24–72 jam pascabencana merupakan fase yang sangat menentukan. Ketersediaan air bersih, sanitasi, dan pengaturan ruang pada shelter menjadi penentu untuk mengurangi risiko penyakit menular. Leptospirosis, diare, dan infeksi lain mudah berkembang pada kondisi lingkungan yang tidak terjaga. “Shelter harus memastikan kebersihan, pasokan air, dan pengaturan ruang agar risiko penularan dapat ditekan,” ujarnya.

Bayu juga menyoroti pentingnya penanganan kesehatan mental sejak tahap awal tanggap darurat. Banyak penyintas mengalami kecemasan dan stres berat akibat kehilangan dan tekanan situasional. Identifikasi cepat terhadap individu dengan gejala berat menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi yang memburuk. “Penanganan psikologis awal penting dilakukan agar gejala tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius,” katanya.