Perluasan Warung MRANTASI Perkuat Upaya Pengendalian Inflasi di Kota Yogyakarta

Mantrijeron, suarapasar.com – Program Warung Masyarakat Lan Pedagang Tanggap Inflasi (MRANTASI) kembali diperluas sebagai upaya meningkatkan kepedulian pedagang terhadap pengendalian inflasi di Kota Yogyakarta. Pada Rabu (3/12), Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo bersama Kepala Dinas Perdagangan, Veronica Ambar Ismuwardani, meresmikan Warung MRANTASI milik Sri Widodo di Pasar Prawirotaman. Peresmian tersebut ditandai secara simbolis melalui pembukaan tirai warung. Program yang sebelumnya berjalan efektif di Pasar Beringharjo dengan melibatkan 25 pedagang ini kini diperluas melalui kerja sama Pemerintah Kota Yogyakarta, Bank Indonesia, Bank BPD DIY, dan para distributor. Warung MRANTASI berperan penting menjaga stabilitas harga sehingga titik layanan ditambah di Pasar Prawirotaman, Sentul, dan Kranggan.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menegaskan, pengendalian inflasi merupakan agenda strategis pemerintah daerah. Berdasarkan dokumen Kerangka Acuan Kegiatan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi di Kota Yogyakarta. “Yogyakarta bukan daerah produsen, sehingga ketergantungan pada pasokan dari sekitar wilayah sangat tinggi,” jelasnya seperti dikutip dari laman Pemerintah Kota Yogyakarta.

Menurut Hasto, ketersediaan pangan menentukan stabilitas harga terutama karena permintaan meningkat seiring status Yogyakarta sebagai kota wisata. Kerja sama antardaerah menjadi kebutuhan penting, termasuk antara Kota Yogyakarta dengan Kabupaten Bantul dan Sleman. Melalui mekanisme tersebut, pasokan pangan lebih terjamin untuk mendukung operasi pasar di Pasar Beringharjo dan Prawirotaman. “Kita harus menguasai pasar kita dengan produk kita sendiri. Jadi pedagang kita dorong untuk membantu mengendalikan harga dengan mengoptimalkan produk lokal dan memperkuat kerja sama antar daerah,” ujarnya.

Ia menambahkan pentingnya mengutamakan produk lokal dalam menekan inflasi. “Jangan sampai beras itu kita ambil dari impor. Kami lebih baik mengambil beras dari Sleman atau Bantul. Kalau harga pasar melejit, warung MRANTASI akan menjadi penyeimbang,” katanya. Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Veronica Ambar Ismuwardani, menjelaskan perkembangan jumlah Warung MRANTASI. “Tahun 2025 sebelum penambahan titik, jumlahnya baru 25. Sekarang total menjadi 85 warung dengan penambahan 60 unit di 37 kios di Prawirotaman, 11 di Sentul, dan 11 di Kranggan,” jelasnya. Warung-warung tersebut fokus pada penjualan sembako sebagai kebutuhan pokok masyarakat.

Pihaknya bekerja sama dengan Bulog dan distributor untuk menjaga ketersediaan barang. “Mereka mendapatkan barang sesuai HET atau harga eceran tertinggi. Sehingga, harga jual tetap terjangkau. Ini menjadi edukasi bagi pedagang dan masyarakat bahwa mereka bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga stabil di Warung MRANTASI,” tambahnya. Untuk stok beras, Veronica memastikan masih aman tanpa membutuhkan impor menjelang akhir tahun. Ia juga menerangkan bahwa kerja sama antar daerah bersifat business to business (B2B), menyesuaikan permintaan dan ketersediaan barang di daerah mitra seperti Bantul dan Sleman. Jika pasokan belum mencukupi, kerja sama akan diperluas ke daerah penyangga lainnya.

Selanjutnya, salah satu Pemilik Warung Mrantasi di Pasar Prawirotaman, Sri Widodo mengatakan, dengan Warung MRANTASI pihaknya mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini. “Kami sudah tersedia beras, minyak, tepung, gula pasir, dan mudah mendapatkannya dengan harga lebih murah melalui operasi pasar. Harapannya, konsumen semakin banyak datang karena harga lebih terjangkau,” ujarnya.(prg,wur)