Pemkot Yogyakarta Perkuat Hilirisasi dan Kerja Sama Daerah untuk Kendalikan Inflasi

Umbulharjo, suarapasar.com – Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya dalam memperkuat pengendalian inflasi melalui inovasi hilirisasi pangan, peningkatan produksi, dan pemangkasan rantai pasok. Hal tersebut disampaikan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, dalam High Level Meeting (HLM) TPID yang juga dihadiri Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Hermanto. Hasto menilai, sebagai wilayah tanpa produksi pangan besar, Yogyakarta harus memperkuat sektor hilir lewat program seperti Warung Mrantasi, Kios Segoro Amarto, dan perluasan Warung Sego Amarto. Program-program ini dinilai efektif menjaga pasokan dan menstabilkan harga.

“Kampung Sayur dan Lorong Sayur harus terus dilanjutkan. Ini bagian dari ekosistem ketahanan pangan kota,” ujarnya seperti dikutip dari laman Pemerintah Kota Yogyakarta.

Selain memperkuat hilirisasi, Hasto juga mendorong optimalisasi CSR, persiapan Food Bank, dan pemotongan rantai pasok melalui berbagai program strategis 2026. Pengumpulan CSR diarahkan untuk menurunkan harga pangan di warung binaan, sementara Food Bank diproyeksikan menjadi program cepat (quick win) yang mulai mendapat dukungan anggaran khusus pada tahun 2026. Hasto menyebut Food Bank akan membantu masyarakat berpenghasilan menengah bawah melalui mekanisme bantuan yang terstruktur.

 

Hasto juga menargetkan pengembangan Warung Sego Amarto dari 14 titik menjadi 45 titik untuk memotong rantai pasok dan menjaga harga tetap stabil. Pemkot Yogyakarta bersama BUMD Jogja Tama Wisesa menyiapkan skema pembelian langsung dari produsen, serta kartu khusus bagi 15.000 warga berpenghasilan menengah bawah untuk mendapatkan harga diskon di warung tertentu. Deputi Kepala Perwakilan BI DIY, Hermanto, menegaskan pentingnya neraca pangan akurat dan kerja sama antardaerah sebagai kunci pasokan stabil. Ia menyebut perlunya KAD yang aktif bagi Kota Yogyakarta, terutama dalam menghubungkan komoditas dengan petani binaan.

“Seperti Sleman, Bantul, dan Kulon Progo yang telah bekerja sama dengan provinsi lain dalam penyediaan komoditas pangan. Kita perlu meyakinkan bahwa Kota Yogyakarta juga harus punya KAD yang aktif. Warung Segoro Amarto bisa menjadi off taker yang terhubung langsung dengan petani binaan,” ungkapnya.

 

Sri Riswanti memaparkan kondisi harga pangan 30 hari terakhir, termasuk komoditas yang berpengaruh pada inflasi seperti cabai rawit merah Rp26.000–Rp51.000, cabai merah keriting Rp40.000–Rp52.000, cabai merah besar Rp46.000–Rp66.000, telur ayam stabil Rp29.000–Rp30.000, daging ayam ras Rp32.000–Rp37.000, daging sapi naik dari Rp130.000 menjadi Rp135.000, bawang merah Rp33.000–Rp39.000, dan bawang putih stabil di Rp33.000. Ia menjelaskan empat Kios Pantau Harga Segoro Amarto sudah beroperasi sebagai barometer harga harian.

“Selain itu, sebanyak 25 Warung Mrantasi telah beroperasi, dan pada Desember akan dibuka tambahan di Pasar Prawirotaman, Pasar Sentul, dan Pasar Kranggan. Total warung yang ditargetkan beroperasi pada 2026 mencapai 85 unit. Pemkot juga menyalurkan 416,5 ton beras stabilisasi, menjalankan operasi pasar, serta menghadirkan 62 ton komoditas pangan dalam gelaran pasar murah di seluruh Kemantren,” jelasnya.

 

Sri Riswanti menambahkan bahwa kuota LPG 2025 sebanyak 7.166.600 tabung dipastikan aman hingga akhir tahun, sementara pengawasan BBM dan mutu pangan diperketat menjelang Natal dan Tahun Baru.(prg,wur)