Kampung Miliki Peran Strategis, Kota Yogya The Little Singapore

Yogyakarta, suarapasar.com : Pembangunan di Kota Yogyakarta tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Jika di daerah lain pemimpin sebagai penggerak utama, maka di Yogyakarta perubahan harus bertumpu pada kekuatan masyarakat di tingkat kampung, RW, dan kelurahan.

“Kampung memiliki peran penting sebagai motor penggerak perubahan dalam pembangunan Kota Yogyakarta. Kampung harus menjadi pusat energi sosial. Kalau kampungnya berubah, kotanya pasti ikut maju,” tandas Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo pada Rapat Dinas di Ruang Bima, Balai Kota Yogyakarta, Kamis (5/6/2025) seperti dikutip dari laman resmi pemkot Yogyakarta.

Hasto juga mengilustrasikan mimpi besarnya bahwa Kota Yogyakarta menjadi “the little Singapore”, kota yang bersih, tertib, dan masyarakatnya sadar akan pendidikan serta lingkungan.

“Saya bayangkan, jika seorang kepala kampung, orang tua, atau tokoh masyarakat punya kesadaran untuk mengubah pola hidup warga, menciptakan lingkungan yang bersih, tertib, ramah anak, ada jam belajar, tidak ada keresahan malam hari, maka wajah Kota Yogyakarta akan berubah total,” imbuhnya.

Selain menyoroti peran kampung, Wali Kota juga mendorong transformasi koperasi agar menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan. Ia menyayangkan masih banyak koperasi yang terjebak pada praktik simpan pinjam dan gagal mensejahterakan anggotanya.

“Mari kita samakan mindset kita. Koperasi bukan hanya sekadar simpan pinjam. Kita harus mulai bergeser dari paradigma lama, koperasi yang berfokus di sektor jasa menjadi koperasi yang bergerak di sektor produksi dan distribusi. Di negara seperti Selandia Baru, koperasi justru menguasai pusat perbelanjaan. Bisa enggak kita mimpi seperti itu? Koperasi harus memperkaya anggotanya, bukan malah membebani,” tegas Hasto.

Dalam kesempatan itu, Hasto menyebut program Koperasi Merah Putih sebagai momentum strategis yang perlu dioptimalkan. Ia mendorong seluruh kelurahan untuk memiliki visi dan komitmen yang sama dalam membangun koperasi yang sehat, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan anggota.

“Saya juga mengingatkan agar koperasi simpan pinjam dikendalikan secara ketat. Jangan menjadikan koperasi sekadar tempat untuk meminjam uang. Arahkan koperasi pada usaha ekonomi produktif. Banyak sektor produksi yang bisa digarap bersama. Inilah tugas kita mendorong koperasi yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Pada kesempatan ini, Hasto Wardoyo membeberkan bahwa masing-masing kelurahan mendapat alokasi dana keistimewaan PMT sebesar Rp100 juta, dengan porsi sekitar Rp72 juta khusus untuk pengadaan makanan sehat bagi sasaran.

“Ini program yang harus dijalankan terus-menerus, bukan dibelanjakan sekaligus di akhir. Penyaluran harus sesuai timing. Jangan anggap ini seperti proyek fisik yang bisa dikerjakan nanti-nanti. Program PMT tidak bisa dirapel, karena menyangkut pemberian makanan secara berkala,” tegas Wali Kota.

Hasto juga menyarankan sasaran yang bisa dijadikan prioritas yakni balita dengan status wasting (kurus) dan bayi yang lahir dengan panjang badan kurang dari 48 cm, sebagai indikator awal risiko stunting.

“Wasting harus segera ditangani agar tidak berkembang jadi stunting. Kita kejar yang bayi-bayi panjangnya kurang dari 48 cm,” kata Hasto. (danr/wds)