GERTAK KB Dorong Capaian Kontrasepsi Jangka Panjang di Yogyakarta, Layanan Tembus Pasar dan Ritel

Yogyakarta, 6 Agustus 2025, suarapasar.com — Pelayanan Keluarga Berencana (KB) di Kota Yogyakarta mencatat kemajuan signifikan berkat strategi pelayanan yang inovatif dan merata hingga ke ruang-ruang publik. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) melaporkan capaian positif pada penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), dengan lebih dari 700 akseptor tercatat hingga saat ini dari target 1.430.

Analis Kebijakan Ahli Muda KB dan Pembangunan Keluarga DP3AP2KB, Ummatul Baroroh, mengungkapkan bahwa capaian untuk Metode Operasi Pria (MOP) sudah melampaui target awal lima akseptor sejak April, bahkan kini tercatat 15 orang antre untuk mengikuti program. Sementara itu, untuk Metode Operasi Wanita (MOW) tercatat sekitar 30 akseptor, IUD 518, dan Implan 131.

Seluruh calon akseptor tetap diwajibkan menjalani skrining medis ketat, termasuk memastikan mereka telah memiliki anak dan tidak memiliki kontraindikasi medis.

Salah satu terobosan yang mendorong kenaikan partisipasi masyarakat adalah program GERTAK KB (Gerakan Serentak Pelayanan KB) yang digagas langsung oleh Wali Kota Yogyakarta. Program ini membawa layanan KB ke lokasi-lokasi strategis seperti pasar tradisional, toko ritel, hingga institusi pendidikan kesehatan, menjangkau masyarakat secara langsung dalam aktivitas sehari-hari.

“Pelayanan KB saat ini tidak hanya di puskesmas atau rumah sakit, tapi juga menyasar lokasi-lokasi yang dekat dengan aktivitas masyarakat, seperti pasar. Rutin buka layanan di Pasar Beringharjo lantai 3 setiap hari Selasa. Sampai sekarang tiap minggunya pasti ada yang aseptor baru maupun lepas pasang paling tidak ada 5 orang tidak pernah yang tidak ada pasien,” ungkap Umma seperti dikutip dari laman Pemerintah Kota Yogyakarta.

Program ini sudah hadir di berbagai pasar seperti Beringharjo, Ngasem, Sentul, Prawirotaman, Kotagede, Gading, Legi, Telo, Cendrawasih, dan Candra, serta di Superindo Jalan Parangtritis. Pelayanan diberikan tanpa biaya dan bekerja sama dengan pengelola pasar serta lurah setempat.

Seluruh biaya layanan, termasuk transportasi dan konsumsi untuk akseptor maupun petugas, ditanggung melalui anggaran BOKB. Akseptor MOP dan MOW juga menerima kompensasi berupa biaya hidup sebesar Rp450.000 dan dana pemulihan Rp550.000.

“Kami ingin memastikan bahwa pelayanan ini tidak memberatkan masyarakat. Semua sudah difasilitasi, tinggal kemauan dan kesiapan calon akseptornya saja,” jelas Umma.

DP3AP2KB juga aktif mengedukasi masyarakat bahwa metode MOP dan MOW tidak berdampak pada stamina atau produktivitas kerja jangka panjang. Pemulihan hanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu sebelum kembali beraktivitas normal.(prg,wur)