Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menegaskan bahwa pengisian Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) masih menjadi tantangan besar dalam Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026.
“Bagi kita, waktu satu bulan sebenarnya sudah lebih dari cukup. Namun faktanya, masih banyak sekolah yang mengalami kendala. Saya sempat berpikir, apakah pengisian PDSS ini sebaiknya dibuat berklaster, agar tidak dilakukan serentak secara nasional,” ujarnya dalam konferensi pers peluncuran SNPMB 2026, Selasa (16/09) seperti dikutip dari laman Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Fauzan menyebutkan perlunya evaluasi teknis agar masalah administratif tidak berulang tiap tahun. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah sistem klasterisasi pengisian PDSS untuk meringankan beban sekolah.
Selain PDSS, ia juga mengingatkan soal ancaman perjokian. “Teknologi yang digunakan joki kadang lebih maju dari sistem yang kita siapkan. Karena itu, antisipasi berbasis elektronik harus semakin diperkuat, supaya hasil seleksi benar-benar valid dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa SNPMB bukan satu-satunya jalur masuk perguruan tinggi. Perguruan Tinggi Swasta (PTS) juga layak dipilih karena kualitasnya terus berkembang. “SNPMB hanyalah salah satu opsi. Masih ada Perguruan Tinggi Swasta yang kualitasnya juga meningkat pesat. Kita ingin melayani masyarakat sebaik-baiknya tanpa ada diskriminasi,” jelasnya.
Untuk itu, Tim Penanggung Jawab SNPMB akan memperkuat sosialisasi agar informasi aturan, tahapan, dan peluang seleksi bisa menjangkau seluruh siswa, orang tua, dan sekolah di berbagai daerah. Fauzan menekankan, tantangan utama SNPMB 2026 bukan hanya aspek teknis, melainkan juga memastikan layanan publik yang adil, transparan, dan merata.(prg,wur)








