Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR dan DPD pada 15 Agustus 2025 menuai perhatian luas, terutama terkait ide pembentukan “sekolah rakyat” dan “sekolah unggul”. Akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Endro Dwi Hatmanto, S.Pd., M.A., Ph.D., menilai gagasan tersebut menarik karena menyasar kelompok rentan sekaligus mendorong daya saing bangsa di bidang sains dan teknologi.
Namun, dalam wawancara eksklusif via WhatsApp, Jumat (15/8), Endro mengingatkan adanya risiko besar dari program ini. “Label ‘rakyat’ dan ‘unggul’ bisa menciptakan sekat yang tidak tertulis, dimana siswa dari sekolah rakyat merasa di ‘kelas bawah’ dan siswa sekolah unggul merasa di ‘kelas atas’,” jelasnya seperti dikutip dari laman Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Sekat tersebut, lanjutnya, dapat berimplikasi pada rasa percaya diri, peluang karier, hingga stigma sosial. Untuk itu, ia menekankan perlunya jalur mobilitas sosial yang jelas, seperti beasiswa dan mekanisme transfer siswa, agar pelajar potensial dari sekolah rakyat bisa menempuh pendidikan di sekolah unggul.
“Pemerataan kualitas pendidikan itu seperti mimpi di siang bolong jika tidak diiringi dengan ekosistem pendidikan yang merata,” ujarnya. Ia menekankan bahwa ekosistem pendidikan mencakup guru berkualitas, kurikulum relevan, fasilitas layak, serta dukungan orang tua dan komunitas dari kota hingga pelosok.
Endro juga menilai rencana sekolah berasrama hanya akan efektif bila guru turut tinggal di asrama. Menurutnya, kehadiran guru sebagai mentor membentuk role model yang konsisten. “Ini membentuk role model yang konsisten, bukan sekadar sosok yang datang-mengajar-pulang,” katanya, mencontohkan sistem asrama di UMY.
Selain itu, ia menyoroti penggunaan teknologi seperti “layar pintar” dalam pembelajaran bahasa. Walau bermanfaat untuk distribusi materi, teknologi tak dapat menggantikan interaksi guru dan siswa. Guru tetap berperan aktif memandu diskusi, role-play, dan aktivitas komunikatif. Karena itu, distribusi perangkat perlu dibarengi capacity building berkelanjutan bagi guru, khususnya di daerah.
Endro juga menegaskan pentingnya pendidikan humaniora di tengah pesatnya kemajuan sains dan teknologi. “Tanpa humaniora, teknologi kehilangan arah kemanusiaannya,” tegasnya. Pendidikan bahasa, tambahnya, melatih empati, pemikiran kritis, dan kemampuan komunikasi yang menjadi fondasi peradaban.
Menutup wawancara, Endro menyatakan sikap realistisnya. “Saya ingin melihat bagaimana program ini benar-benar diterapkan,” pungkasnya. Ia menilai, keberhasilan program sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, pendanaan, dan evaluasi berbasis data. Tanpa itu, ia khawatir program hanya akan menjadi deretan target di atas kertas tanpa dampak nyata di lapangan.(prg,wur)







