Program 1.100 Desa Nelayan Dinilai Strategis, Pakar UMY Tekankan Pentingnya Pendekatan Lokal

Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk mengembangkan 1.100 Desa Nelayan di berbagai wilayah Indonesia dinilai sebagai langkah strategis yang patut diapresiasi. Dosen Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ir. Gatot Supangkat, M.P., IPM., menyebut keberhasilan program hanya akan tercapai jika dirancang dan dijalankan secara komprehensif dengan potensi lokal sebagai fondasi utama.

Menurut Gatot, Indonesia memiliki modal alam sangat besar sebagai negara megabiodiversitas. “Kalau kita kelola kekayaan di darat dan laut dengan benar dan bijak, saya yakin Indonesia bisa menjadi the world leader. Ini bukan hal yang mustahil karena potensinya luar biasa,” ujarnya optimistis seperti dikutip dari laman Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Ia menilai program Desa Nelayan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Karena itu, diperlukan rencana sistematis terkait lokasi, target waktu, dan indikator keberhasilan yang jelas.

Gatot menekankan pentingnya memandang Desa Nelayan sebagai ekosistem utuh, yang mencakup SDM kompeten, pemanfaatan sumber daya lokal, serta pelestarian budaya dan kearifan lokal. “SDM memegang peran vital, karena yang paling memahami kondisi daerah adalah masyarakat setempat. Mereka harus dibekali pengetahuan dan keterampilan yang tepat untuk mengelola potensi wilayahnya,” jelasnya.

Ia juga menyoroti perlunya penggunaan teknologi tepat guna tanpa berlebihan, serta penerapan kebijakan yang induktif sesuai realitas lapangan. “Kebijakan harus dimulai dari realitas di lapangan, bukan deduksi dari kebijakan pusat yang sama untuk semua daerah,” pungkasnya.(prg,wur)