Umbulharjo, suarapasar.com — Pemerintah Kota Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Responsible Borneo mengumumkan rencana penguatan kolaborasi dalam riset pariwisata berkelanjutan. Kerja sama ini disampaikan dalam kegiatan Benchmarking Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM (FEB UGM) di Ruang Yudhistira, Balai Kota Yogyakarta, Kamis (20/11).
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menyebutkan bahwa pada tahun 2025 tren kunjungan wisata masih menurun, baik dari wisatawan domestik maupun mancanegara. “Turis kita di tahun 2025 belum menunjukkan adanya peningkatan, terutama turis asing. Dari angka-angka yang kita lihat, baik domestik maupun mancanegara mengalami penurunan,” ujarnya. Ia menilai kolaborasi riset dengan akademisi dan para ahli internasional diperlukan untuk mengidentifikasi faktor penentu peningkatan jumlah wisatawan. “Kita ingin mencari determinant factor, apa saja yang bisa menjadi penentu untuk menaikkan jumlah turis ke depan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya evaluasi efektivitas berbagai event dan festival yang menjadi kekuatan Yogyakarta sebagai City of Festival. “Jogja sebagai destinasi wisata jelas terpengaruh. Ketika ada kecenderungan masyarakat menahan diri berkunjung ke beberapa daerah karena alasan efisiensi, imbasnya juga sampai ke sini,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Moh Zandaru Budi Purwanto menjelaskan bahwa pada tahun 2024 Kota Yogyakarta menerima 10,93 juta wisatawan dengan total belanja mencapai Rp 2,259 triliun dan rata-rata lama tinggal 1,88 hari. Hingga Oktober 2025, kunjungan wisata mencapai hampir 9 juta wisatawan domestik dan 274 ribu wisatawan mancanegara, dengan rata-rata lama tinggal 1,77 hari.
Pemkot juga memperkuat posisi 45 Pokdarwis dan 46 Kampung Wisata, serta menggencarkan sertifikasi pemandu wisata dan barista. Kolaborasi antara industri perhotelan, restoran, kampung wisata, dan sentra kuliner turut ditingkatkan untuk memperkuat ekosistem pariwisata.
Dosen FEB UGM, Widya Paramita, Ph.D., menyampaikan dukungan akademik terhadap kerja sama riset untuk menghubungkan data supply dan demand pariwisata. Ia menyoroti perlunya eksplorasi lebih dalam terhadap faktor penyebab perubahan kunjungan wisatawan. Kerja sama yang akan dijalankan mencakup kemitraan riset rutin, penguatan program One Village One Sister, serta pembinaan desa wisata dengan melibatkan mahasiswa UGM.
“Tiga bentuk kerja sama yang akan segera dijalankan adalah pertama, kemitraan riset rutin atau pertemuan berkala antara Dinas Pariwisata dan UGM untuk mengarahkan topik riset mahasiswa sesuai kebutuhan kebijakan.”
Hasto saat foto bersama Direktur Responsible Borneo, Prof. Hiram Ting.
Program pembinaan desa wisata akan memanfaatkan mahasiswa sebagai SDM terlatih untuk mendukung strategi pengembangan destinasi.
Selanjutnya, Direktur Responsible Borneo, Prof. Hiram Ting menegaskan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam pariwisata berkelanjutan, mulai dari bidang teknik, manajemen, fesyen, pemetaan budaya, hingga energi dan keberlanjutan. “Kami ingin makalah dan riset dari para insinyur, manajer, desainer fesyen, ahli pemetaan budaya, hingga bidang energi dan keberlanjutan. Semua itu sebenarnya terkait dengan pariwisata,” jelasnya.
Ia berharap kolaborasi riset dapat terus diperluas bersama UGM dan universitas lainnya. “Dengan bekerja bersama, kita bisa saling belajar,” ujarnya.(prg,wur)








