Yogyakarta (10/9/2025), suarapasar.com – Pemerintah Indonesia kian serius mewujudkan ambisi menjadi “raja energi hijau dunia” setelah menandatangani nota kesepahaman kerja sama ekspor listrik dengan Singapura.
Dosen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Fakultas Teknik UGM, Rachmawan, menilai kerja sama ini sebagai peluang besar. Menurutnya, ekspor listrik bukan hanya soal perdagangan energi, tetapi juga memberikan nilai tambah tinggi bagi perekonomian. “Kita tidak lagi menjual barang mentah, melainkan produk olahan,” jelasnya.
Ia menyebutkan, proyek ekspor listrik akan mendorong pembangunan pembangkit dalam negeri, membuka lapangan kerja luas, serta meningkatkan penggunaan komponen lokal. Dari sisi harga, ekspor listrik juga menguntungkan karena mengacu pada harga internasional sehingga menarik bagi pelaku usaha.
“Apabila berjalan lancar, ekspor listrik ini akan mendorong pertumbuhan green economy. Kita memperoleh pendapatan dari aktivitas yang rendah karbon,” tegasnya seperti dikutip dari laman Universitas Gadjah Mada.
Terkait kekhawatiran pasokan domestik, Rachmawan menilai potensi energi di Sumatra sangat besar, mulai dari PLTA, PLTGU, hingga PLTS. “Jika hanya sebagian kecil area digunakan untuk ekspor ke Singapura, tidak akan terlalu berdampak pada pasokan lokal,” ujarnya. Meski demikian, ia menekankan perlunya keseimbangan. Pembatasan khusus bisa diberlakukan jika daerah pembangkit masih kekurangan listrik.
Mengenai skema bisnis, Rachmawan menegaskan pentingnya perhitungan matang agar kompetitif dan menarik bagi investor. “Kalau tidak kompetitif, swasta bisa lebih memilih investasi di negara lain. Itu berarti kita kehilangan peluang besar,” ungkapnya.
Selain itu, pembangunan infrastruktur kabel bawah laut dinilai bukan kendala teknis, karena para teknisi Indonesia sudah berpengalaman. Namun, ia mengingatkan perlunya perencanaan detail agar tidak mengganggu jalur pelayaran. “Perencanaan harus matang untuk meminimalisir dampak terhadap kegiatan maritim,” tutupnya.(prg,wur)








