Pemerintah Kota Yogyakarta kembali mengaktifkan program Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang menyasar lingkungan sekolah dasar (SD) sebagai bagian dari upaya edukasi mitigasi bencana sejak dini. Melalui Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), program ini dijalankan untuk membentuk kesiapsiagaan menghadapi bencana di kalangan siswa.
Tahun ini, sebanyak 14 SD di Kota Yogyakarta ditargetkan menjadi lokasi pelaksanaan program tersebut. Hingga pertengahan tahun, kegiatan telah terealisasi di tujuh sekolah.
“Program ini sesuai dengan MoU antara Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 01 Tahun 2019 dan Nomor 04 Tahun 2019 tentang mitigasi bencana pada satuan pendidikan melalui program Tagana Masuk Sekolah,” jelas Tissa saat ditemui beberapa waktu lalu.
Thissani menambahkan, Tagana merupakan relawan berbasis masyarakat yang direkrut dan dibina oleh Kementerian Sosial dengan kompetensi di berbagai bidang seperti dapur umum, layanan psikososial, serta pengelolaan pengungsian. Dalam pelaksanaannya, program ini mencakup penyuluhan, visualisasi materi, dan simulasi lapangan, seperti simulasi gempa bumi, jalur evakuasi, dan titik kumpul yang dilaksanakan langsung di sekolah.
“Anak-anak SD memiliki memori yang kuat. Dengan pendekatan visual dan praktik langsung, kami berharap mereka mampu mengingat dan menerapkan pengetahuan ini jika suatu saat terjadi bencana, baik di sekolah maupun di rumah. Tujuannya agar mereka tidak panik, tahu apa yang harus dilakukan, bahkan bisa menjadi pemimpin evakuasi di lingkungan sekitarnya,” lanjutnya.
Meski cakupan idealnya mencakup jenjang PAUD hingga SMP, keterbatasan anggaran membuat program tahun ini difokuskan pada tingkat SD yang jumlahnya masih cukup banyak di wilayah Kota Yogyakarta.
Sementara itu, Staff Tata Usaha SMP BOPKRI 1 Yogyakarta, Prima Mahardika Sukmana, yang turut berpartisipasi dalam program ini, menyambut baik inisiatif tersebut.
Ia mengatakan, kegiatan ini memberikan manfaat besar bagi seluruh warga sekolah. “Beberapa waktu lalu siswa kami mengikuti praktik penanganan gempa bumi dan sosialisasi menghadapi kebakaran. Respon mereka sangat positif dan antusias. Ini sangat membantu mereka memahami apa yang harus dilakukan saat menghadapi bencana,” jelas Sukmana saat diwawancarai seperti dikutip dari laman Pemerintah Kota Yogyakarta.
Untuk bulan ini Pemkot menyasar SD BOPKRI 1 Yogyakarta.
Ia berharap, program ini dapat terus dilanjutkan dan diperluas cakupannya di tahun-tahun mendatang, guna menciptakan masyarakat yang tanggap dan tangguh menghadapi bencana sejak dini.(prg,wur)







