Umbulharjo, suarapasar.com – Peringatan Hari Jadi Kota Yogyakarta tahun 2025 dipastikan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa kegiatan tidak hanya berorientasi pada hiburan, melainkan harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Hal ini disampaikan dalam rapat dinas di Balai Kota, Senin (15/9).
“Pak Mendagri selalu mengingatkan agar perayaan hari jadi jangan terlalu besar-besaran. Jangan hanya menampilkan pentas atau hiburan yang berlebihan, karena bisa menimbulkan kesan kontras dengan kondisi masyarakat. Hari jadi harus menjadi momentum perubahan,” ujar Hasto seperti dikutip dari laman Pemerintah Kota Yogyakarta.
Salah satu program utama yang menjadi fokus ialah pengelolaan sampah organik. Hasto menjelaskan, setiap perangkat daerah akan diberi tanggung jawab mendampingi satu kelurahan dalam menjalankan program ini. Prinsip yang dipegang adalah sampah organik rumah tangga tidak boleh lagi menumpuk di depo, tetapi harus dikelola langsung dari sumbernya.
Pemerintah Kota Yogyakarta juga menyiapkan solusi praktis, seperti penggunaan galon bekas berlubang sebagai wadah pengomposan rumah tangga serta pembagian 1.000 ember berkapasitas 25 kilogram kepada kelompok masyarakat. Hasil olahan sampah organik nantinya dimanfaatkan untuk pertanian terpadu maupun secara komunal di beberapa titik, termasuk kawasan pasar.
“Kita ingin ini tidak hanya mengurangi beban sampah, tetapi juga menjadi bagian dari integrated farming program. Sampah bisa kembali menjadi pupuk yang bermanfaat untuk tanaman dan pertanian masyarakat,” jelas Hasto.
Dengan langkah tersebut, Hasto berharap jumlah sampah organik yang masuk depo dapat ditekan. Saat ini, Kota Yogyakarta menghasilkan sekitar 300 ton sampah per hari, sedangkan kuota yang diperbolehkan masuk TPA hanya 600 ton per bulan.
“Kalau tidak dikelola dari hulu, depo pasti overload. Maka kita harus kreatif, gotong royong, dan semua perangkat daerah harus turun langsung mendampingi kelurahan,” tegasnya.
Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Aman Yuriadijaya, juga menegaskan bahwa fokus utama pengelolaan terletak pada sampah organik basah. Dari total 300 ton timbulan sampah harian, sekitar 60 persen atau 180 ton merupakan sampah organik, dengan 100 ton di antaranya berjenis basah yang bisa direduksi.
“Target awal kita adalah reduksi minimal 60 ton sampah organik basah per hari. Mekanismenya, setiap gerobak pengangkut akan menampung sekitar 50 kilogram sampah organik. Jika dikalikan 1.200 gerobak, maka potensi reduksi mencapai 60 ton per hari,” ujarnya.
Aman menambahkan, distribusi sampah organik basah akan diarahkan ke pemanfaat atau off-taker, seperti sektor peternakan di wilayah aglomerasi Yogyakarta, termasuk Sleman dan Bantul. “DLH akan berperan penting mencarikan off-taker setiap harinya agar 60 ton sampah organik ini tersalurkan dengan baik,” tambahnya.
Selain itu, Pemkot juga menyiapkan lomba lingkungan untuk mendorong partisipasi warga. Lima kategori dilombakan, yakni pengelolaan sampah organik kolektif berbasis kemantren, reduksi suplai sampah melalui transporter, kebersihan lingkungan termasuk penanganan sampah liar, lomba keluarga MAS JOS (pilah, olah, manfaatkan sampah organik), serta penimbangan sampah anorganik massal berbasis bank sampah.
“Lomba ini bukan sekadar kompetisi, melainkan upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat. Kita ingin mengukur seberapa besar kontribusi tiap wilayah dalam mengurangi timbulan sampah,” jelasnya.(prg,wur)






