Yogyakarta, suarapasar.com – Hingga saat ini, lebih dari 60 persen timbulan sampah di Kota Yogyakarta masih didominasi sampah organik. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota Yogyakarta untuk terus mengoptimalkan pemilahan sampah organik dan nonorganik sejak dari sumbernya atau tingkat hulu.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan, optimalisasi pemilahan sampah organik perlu diperkuat agar tidak lagi dibuang ke depo. Terlebih, saat ini telah diberlakukan larangan pembuangan sampah organik ke depo-depo yang ada di Kota Yogyakarta. Dengan pengelolaan dari hulu, Hasto optimistis persoalan sampah harian kota yang mencapai rata-rata 300 ton dapat ditangani secara bertahap.
“Kalau misalkan 62 persen itu sampah organik, kalau sampah organiknya itu tidak dibawa ke depo dan tidak ke Piyungan, maka tinggal 40 persen sebetulnya. Kalau realnya, kalau misalnya kita sehari 300 ton sebetulnya tinggal 120 ton, nah kalau tinggal 120 ton kita mampu mengolah,” kata Hasto Wardoyo ditemui usai membuka Musyawarah Kadin Kota Yogyakarta, Senin, (19/1/ 2026).
Hasto juga menilai program pembagian ember pengolahan sampah organik atau emberisasi yang dimulai pada akhir 2025 menunjukkan hasil positif. Program tersebut tercatat mampu mereduksi sekitar 25 ton sampah organik basah setiap hari. Pada 2026, program emberisasi akan kembali dilanjutkan dengan target total mencapai 2.000 ember di tingkat rumah tangga.
“Kalau sampah organik yang sisa makanan itu kan kita prediksi maksimal itu sampai 50 ton, jadi kalau 50 ton itu berarti maksimal 2.000 ember. Sekarang sudah tercapai sekitar 1.100 ember, ya itu yang harap kita tingkatkan terus, kalau sampai seberapa banyak ya target saya bisa sampah organiknya bisa sampai 50 ton organik basah,” urai Hasto.
Selain pengolahan sampah organik basah, Hasto menjelaskan bahwa pengelolaan sampah organik kering juga akan diperkuat. Sampah organik kering seperti daun, kayu, dan sisa potongan tanaman akan dijemput oleh DLH Kota Yogyakarta untuk kemudian diolah di tiga titik pengolahan, yakni Unit Pengolahan Pupuk Organik Pasty, Tegalrejo, dan Tegalgendu yang saat ini masih dalam proses pengembangan.
“Organik keringnya bisa 70-80 ton, seperti misalkan sisa-sisa daun, kayu, potongan, dan sebagainya itu. Itu targetnya kita bisa menguasai organik kering dan organik basah,” ujarnya.(prg,wur)








