Kulon Progo, suarapasar.com – Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai kunjungan penyuluh lintas agama di Susteran SJMJ (Suster Jesus Maria Joseph), Ngaglik, Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo, Selasa (5/5/2026). Kegiatan ini menjadi ruang dialog sekaligus mempererat sinergi antarumat beragama dalam semangat keberagaman dan toleransi.
Kegiatan tersebut dihadiri penyuluh agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Katolik. Turut hadir Kepala Kantor KUA Sentolo beserta beberapa staf Penyelenggara Katolik dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo.
Penyelenggara Katolik Kankemenag Kulon Progo, Yohanes Setiyanto, S.S., menjelaskan kehidupan para suster yang berbeda dengan umat Katolik pada umumnya.
“Kehidupan suster berbeda dengan umat Katolik pada umumnya. Mereka hidup dalam komunitas yang menghayati kaul ketaatan, kemiskinan, maupun kemurnian serta mengedepankan hidup doa dan pelayanan,” terangnya.
Sementara itu, Dewan Pimpinan Susteran SJMJ, Sr. Theresia, menceritakan kehidupan para suster yang tetap menyatu dengan masyarakat sekitar meski hidup dalam aturan komunitas.
“Kami hidup dengan mengikuti aturan yang ada dalam komunitas. Tetapi menyatu dengan masyarakat sekitar pada umumnya. Kami hidup menyesuaikan dengan lingkungan masyarakat di mana kami berada, hidup bersama dengan masyarakat yang majemuk,” ujarnya.
Sr. Theresia menjelaskan bahwa para suster bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial seperti panti asuhan serta panti wreda yang tersebar di berbagai daerah dan negara.
“Kami adalah manusia biasa yang pernah mengenal masa muda. Namun seiring waktu kami memurnikan motivasi untuk setia pada panggilan Tuhan sebagai pilihan hidup. Doa menjadi nafas dan komitmen untuk menjaga pelayanan agar tetap tulus,” imbuhnya.
Dalam dialog tersebut, peserta juga membahas hubungan antar-kongregasi di Yogyakarta yang selama ini saling berkolaborasi dalam berbagai pelayanan bersama Keuskupan maupun Paroki.
Para peserta turut mendapatkan penjelasan mengenai kehidupan sehari-hari para suster yang melatih kesederhanaan melalui aktivitas berkebun, bertani, merawat rumah, serta menjalankan rutinitas doa lima kali sehari, meditasi, dan refleksi diri.
“Kunci bertahannya komunitas adalah kemampuan menurunkan ego dan saling memaafkan,” jelas Sr. Theresia.
Penyuluh Agama Buddha, Saryanto, S.Pd.B., mengaku terkesan dengan nilai pengabdian dan pelayanan yang dijalani para suster.
Sementara Penyuluh Agama Islam, Mukhlisin Purnomo, S.Th.I., menilai kehidupan para suster telah mencerminkan konsep ekoteologi yang saat ini digaungkan Kementerian Agama.
“Belajar yang sesungguhnya yaitu hidup berdampingan dengan masyarakat, alam, dan sosial. Para suster sudah mewujudkan ekoteologi yang menjadi konsep dalam Kementerian Agama. Mereka sungguh menghidupi ekoteologi secara nyata dalam kehidupan, tidak hanya sekadar teori atau slogan belaka,” tuturnya.
Penyuluh Agama Hindu, Wusono, juga menyampaikan kesannya terhadap suasana persaudaraan yang terbangun dalam pertemuan tersebut.
“Dalam perjumpaan ini terjadi keakraban dan persaudaraan yang begitu erat walaupun berasal dari latar belakang yang berbeda. Harapan ke depan dapat terjadi kerja sama yang berkelanjutan,” ujarnya.
Kegiatan lintas iman ini diharapkan semakin memperkuat semangat toleransi, kerja sama, dan harmoni antarumat beragama di Kabupaten Kulon Progo.(prg,wur)








