Kulon Progo, suarapasar.com : Supinatun (61) warga Giwangan, Umbulharjo XI, Yogyakarta datang ke Markas Paguyuban Nasabah Korban BUKP Kulon Progo, di Brosot Kamis (3/7/2025) pagi.
Supinatun mengaku sudah dua kali ke Brosot, Galur, Kulon Progo karena ingin mencari kantor BUKP Galur dan mencari tahu nasib uang simpanannya sebesar Rp 760 juta.
Sayangnya, saat pencarian pertama ia tidak berhasil menemukan BUKP Galur, kemudian bertanya ke Polsek Galur dan diarahkan ke Markas Paguyuban Nasabah Korban BUKP Kulon Progo, di Brosot.
“Ya saat itu saya ketemu Mas Aan (Sasmito Nugroho Ketua Paguyuban Nasabah Korban BUKP Galur), dan kedua hari ini Kamis (3/7/2025) pagi, saya dipanggil Mas Aan,” kata Supinatun.
“Niatnya hanya satu. Mau mencari dimana kantor BUKP Galur, dan bertemu dengan salah satu pegawai BUKP Galur yang menerima transefran uang saya selama ini. Saya baru tahu di sini, ini kok malah ada masalah begini. Sedih saya. Nasib uang saya gimana,” kisahnya sambil menahan isak tangis.
Menurut Supinatun, ia mengirim uang melalui pegawai BUKP Galur sejak tahun 2020 lalu, sejak masih bekerja sebagai TKW di Singapura.
Ia mengaku mengenal BUKP Galur karena saran temannya yang juga suami salah satu pegawai BUKP Galur. Maka ia pun setuju menyimpan dana di BUKP Galur. Ia pun mengirim uang melalui rekening pegawai BUKP Galur tersebut. Dalam buku tabungannya pun tercatat ada dana masuk dari bunga deposito dengan tulis tangan serta diparaf oleh pegawai BUKP Galur tersebut.
“Kirim uangnya sudah tujuh kali, terkumpul simpanan dalam 7 bilyet deposito Rp 769 juta,” katanya lagi.
Namun, sejak itu hingga saat ini, ia belum pernah mendapatkan kiriman atau transferan bunga deposito sebagaimana dijanjikan oleh pegawai BUKP Galur itu.
Bahkan, beberapa waktu ini ia merasa susah menghubunginya.
Supinatun pun sangat kawatir, bahkan merasa sudah kena tipu oleh orang yang mengaku sebagai pegawai BUKP Galur.
Setelah bertahun-tahun bekerja di Singapura, kemudian pulang ke Indonesia, ia pun berniat mencari kantor BUKP Galur dan mencari tahu nasib kejelasan simpanan depositonya. Apalagi, kini kondisi ekonominya terhimpit, dan juga harus merawat suaminya yang sakit.
“Ketika saya tanya ke pegawai BUKP Galur tabungan saya belum bisa dibayarkan. Lho kenapa ini, maka saya lacak dimana kantornya. Lah kok di sini tidak ada kantornya, orang juga tidak tahu dimana kantornya, maka saya ke polisi dan diantar ke sini,” papar Supinatun. (Wds/drw)







