Yogyakarta suarapasar.com : Sehubungan dengan beberapa informasi yang berkembang di masyarakat, khususnya pelaku pariwisata dan wisatawan terkait kerawanan tanah longsor di beberapa destinasi wisata yang ada di DIY. Beikut penjelasan Imam Pratanadi Kepala Dinas Pariwisata DIY dalam keterangan tertulis Senin (8/12/2025).
Secara kronologis dapat dijelaskan bahwa pada tanggal 10 Desember 2025 telah dilaksanakan Forum Wartawan Unit DPRD DIY dalam rangka persiapan menghadapi libur Natal dan Tahun Baru 2025 dengan tema Pariwisata Akhir Tahun di Tengah Cuaca Ekstrem. Dalam forum tersebut, Dinas Pariwisata DIY menyampaikan bahwa berdasarkan hasil olahan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY terdapat 3 (tiga) kawasan wisata yang mempunyai potensi rawan tanah longsor, yaitu: Perbukitan Menoreh, Pegunungan Sewu, serta Perbukitan Patuk Imogiri. Di dalam Kawasan tersebut terdapat beberapa destinasi wisata diantaranya: Nglinggo Tritis, Puncak Widosari, Puncak Suroloyo. Sendangsono, Embung Tonogoro, Desa Wisata Tinalah, Desa Wisata Jatimulyo, Nglanggeran, Goa Pindul, Kalisuci, Air terjun Srigethuk, Goa Jomblang, Desa Wisata Wukirsari, Mangunan (Becici, Pengger), Imogiri, HeHa Sky View, dan Bukit Bintang.
“Menilik data yang ada, sejak tahun 2023 kejadian longsor di destinasi wisata tercatat hanya terjadi di area parkir Tebing Breksi. Selebihnya kejadian longsor tidak secara spesifik terjadi di destinasi wisata sehingga tidak berdampak kepada operasionalisasi destinasi tersebut. Namun demikian, kejadian longsor di beberapa daerah juga berdampak pada kerusakan infrastruktur, khususnya jalan, sehingga dapat berakibat pada terhambatnya akses.
Dari beberapa uraian tersebut dapat disampaikan beberapa poin berikut ini:
1. Kejadian tanah longsor merupakan fenomena alam yang tidak dapat diprediksi secara pasti. Oleh karena itu, pemetaan kawasan yang berpotensi rawan longsor merupakan prosedur standar yang dilakukan dalam upaya mitigasi bencana.
2. Dinas Pariwisata DIY menegaskan bahwa tidak ada penutupan yang dilakukan terhadap destinasi wisata yang berada di dalam kawasan yang berpotensi longsor dan destinasi wisata tetap beroperasi seperti biasa.
3. Dinas Pariwisata DIY menekankan bahwa semua destinasi di kawasan berpotensi bencana tetap aman untuk dikunjungi dan aktivitas wisata dapat dilakukan seperti biasa. Pengawasan kondisi destinasi tersebut dilakukan secara intensif dengan melibatkan Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota, BPBD DIY, Satpol PP, TNI/Polri, pengelola destinasi maupun masyarakat setempat.
4. Dinas Pariwisata DIY bersama dengan jajaran terkait sesuai kewenangan masing-masing telah melakukan langkah-langkah mitigasi antara lain:
a) Berkoordinasi dengan pengelola destinasi dan desa wisata dalam rangka penyiapan menyambut wisatawan, terutama memastikan ketersediaan rambu penunjuk arah dan rambu peringatan serta memastikan bahwa peralatan keamanan dan keselamatan dapat berfungsi dengan baik.
b) Melakukan pengawasan bersama Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota untuk memastikan pelaksanaan operasional oleh pelaku usaha sesuai dengan SOP yang berlaku.
c) Memantau kondisi cuaca di destinasi wisata secara real-time dengan memanfaatkan kamera cctv
d) Memantau informasi prakiraan cuaca dari BMKG dan secara berkala menginformasikan kepada semua pihak terkait melalui kanal informasi JITV maupun media lainnya.
5. Dinas Pariwisata DIY bersama Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota dan pemangku kepentingan terkait menghimbau masyarakat dan wisatawan untuk tetap tenang dan melanjutkan rencana kunjungannya. Keamanan, keselamatan, dan kenyamanan wisatawan adalah prioritas utama kami, dan setiap potensi risiko akan ditangani sesuai prosedur mitigasi yang telah disiapkan.
6. Upaya mitigasi dan penanganan bencana terus dilakukan secara terpadu melalui koordinasi intensif antar pihak terkait untuk menjamin wisatawan dapat melakukan kegiatan wisata secara aman, nyaman, dan menyenangkan.








