Bantul (19/02/2026), suarapasar.com – Era birokrasi yang hanya mengandalkan rutinitas administratif telah usai. Pelatihan kepemimpinan kini menjadi medan kurasi yang ketat, bukan sekadar pelengkap riwayat hidup.
Sekda DIY, Ni Made Dwi Panti Indrayanti, menyampaikan hal tersebut saat membuka Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan I Tahun 2026, Kamis (19/2) di Bandiklat, Gunung Sempu, Bantul. Ia menyoroti tingginya risiko kegagalan dalam proses transisi jabatan di organisasi publik.
Mengutip riset Harvard Business Review, Ni Made mengungkapkan fakta bahwa hampir 40% perpindahan jabatan internal berisiko gagal karena organisasi kerap keliru dalam mengidentifikasi talenta. “Pelatihan ini adalah bagian dari desain besar. Kita tidak sedang sekadar memenuhi kewajiban administratif, melainkan menjalankan strategi manajemen talenta untuk memastikan keberlanjutan organisasi,” ujar Ni Made.
Ni Made menekankan para pejabat administrator di lingkungan Pemda DIY tidak lagi bekerja hanya karena “takut aturan atau sekadar patuh pada prosedur (procedural compliance). Ia menuntut tiga dimensi utama dari para calon pemimpin daerah yaitu kapasitas analitis yang tajam, komitmen institusional, dan aspirasi yang selaras dengan arah pembangunan DIY.
“Saya berharap PKA ini tidak hanya menghasilkan tumpukan kertas proyek perubahan sebagai output administratif. Kita butuh administrator yang punya ownership (rasa memiliki) terhadap kinerja organisasi,” tegasnya.
Menurutnya, PKA 2026 diposisikan sebagai talent acceleration platform, di mana peserta menjadi bagian dari radar pencarian bakat birokrasi dan dipersiapkan masuk ke dalam talent pipeline untuk mengisi posisi strategis ke depan.
Ia menyebut tiga kapabilitas kunci yang harus dimiliki peserta, yakni kemampuan menerjemahkan visi strategis Gubernur ke dalam langkah operasional terukur, adaptif terhadap transformasi digital, serta berani mengambil tanggung jawab melampaui kepatuhan formal.
“Kita sedang menyiapkan fondasi kepemimpinan yang kokoh bagi birokrasi yang adaptif. Semua harus terukur dan berbasis kompetensi,” tutup Ni Made.
Dengan dimulainya PKA Angkatan I ini, Pemda DIY menegaskan bahwa promosi jabatan ke depan akan semakin berbasis data, asesmen kemampuan, serta rekam jejak kinerja, bukan semata faktor senioritas.
Kepala Bandiklat DIY, Amin Purwani, melaporkan bahwa pelatihan berlangsung selama 105 hari hingga 21 Mei 2026 dengan metode blended learning yang memadukan pembelajaran tatap muka dan daring.
“Sesuai keputusan Kepala LAN, kami memadukan pengalaman belajar di kelas mandiri maupun di tempat kerja. Peserta akan memanfaatkan teknologi informasi melalui sistem e-learning guna memastikan efektivitas pembelajaran,” jelas Amin.
Ia merinci kurikulum dibagi dalam tiga pilar utama, yakni pelatihan inti, dasar, dan pilihan, yang dirangkum dalam lima agenda besar mulai dari Kepemimpinan Pancasila dan Nasionalisme hingga Manajemen Kinerja dan Aktualisasi Kepemimpinan.
Dari total 40 peserta, sebanyak 21 orang merupakan perempuan dan 19 orang laki-laki. Berdasarkan asal instansi, peserta terbanyak berasal dari Pemda DIY sebanyak 20 orang, disusul Kabupaten Sleman 10 orang, Kota Yogyakarta 5 orang, Gunungkidul 4 orang, dan Kabupaten Bantul 1 orang.
“Pembiayaan diklat ini bersumber dari APBD DIY, dengan fasilitator yang merupakan kombinasi antara Widyaiswara, profesional dan praktisi di bidangnya,” tambah Amin.
Untuk menjamin kualitas hasil pelatihan, evaluasi dilakukan melalui empat instrumen utama, yakni evaluasi akademik, evaluasi pembelajaran lapangan, evaluasi produk aktualisasi kepemimpinan, serta evaluasi sikap dan perilaku.
Dengan standar evaluasi berlapis tersebut, Pemda DIY berharap PKA mampu melahirkan administrator yang benar-benar mampu menerjemahkan visi strategis Gubernur ke dalam tata kelola pelayanan publik yang konkret dan terukur.(prg,wur)








