Pakar UMY Ingatkan Bahaya Whip Pink, Penyalahgunaan Nitrous Oxide Ancam Generasi Muda

Tren penyalahgunaan nitrous oxide atau yang dikenal dengan istilah Whip Pink kian mengkhawatirkan di kalangan anak muda. Zat yang sejatinya digunakan di dunia medis ini kembali menjadi sorotan setelah seorang selebgram ditemukan meninggal dunia, dengan barang bukti berupa tabung Whip-Pink yang mengandung nitrous oxide di dalam kamar tempat tinggalnya.

Pakar Farmasi Klinik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), apt. Puguh Novi Arsito, M.Sc., menegaskan bahwa nitrous oxide bukanlah zat yang aman untuk digunakan secara sembarangan, terlebih tanpa pengawasan tenaga kesehatan. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami fungsi serta risiko penggunaan zat tersebut.

“Secara medis, nitrous oxide atau dalam istilah kimia disebut dinitrogen monoksida (N₂O) digunakan di dunia kedokteran, terutama sebagai anestesi inhalasi. Biasanya dikombinasikan dengan obat anestesi lain untuk mempercepat induksi dan menurunkan dosis anestesi utama,” jelas Puguh saat dimintai keterangan secara daring, Kamis (5/2).

Namun, ketika digunakan di luar kepentingan medis, nitrous oxide justru menimbulkan berbagai dampak berbahaya. Gas ini dikenal sebagai gas tawa karena pengaruhnya terhadap sistem saraf pusat yang dapat memicu pelepasan dopamin di otak.

“Penggunaan secara nonmedis dapat memicu pelepasan dopamin di otak, sehingga menimbulkan rasa euforia, senang, dan kepuasan sesaat,” ujarnya seperti dikutip dari laman Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Selain itu, nitrous oxide juga memengaruhi reseptor NMDA di otak yang berperan dalam proses persepsi sensorik. Akibatnya, pengguna dapat mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan yang menjadi kabur, hingga merasakan sensasi melayang atau fly.

Efek tersebut kerap memberikan rasa bebas dari tekanan dan masalah, meski hanya bersifat sementara. Kondisi ini justru mendorong penggunaan berulang yang berpotensi menimbulkan ketergantungan.

Dari sisi medis, Puguh menjelaskan bahwa risiko paling berbahaya dalam jangka pendek adalah hipoksia atau kekurangan oksigen. Nitrous oxide sebagai gas murni dapat mendesak oksigen di paru-paru, sehingga suplai oksigen ke tubuh menurun secara drastis.

“Penggunaan jangka panjang juga berdampak serius terhadap kesehatan saraf. Nitrous oxide bersifat oksidator kuat yang dapat mengganggu metabolisme vitamin B12, padahal vitamin B12 sangat penting dalam pembentukan dan pemeliharaan sel saraf,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa dalam dunia farmasi, nitrous oxide termasuk obat keras yang penggunaannya diatur ketat oleh peraturan perundang-undangan dan hanya boleh digunakan dengan resep dokter serta oleh tenaga medis.

“Celah penyalahgunaan justru berasal dari sektor pangan, karena nitrous oxide digunakan dalam industri makanan, misalnya untuk whipping cream. Dari sektor inilah produk tersebut dapat beredar dan disalahgunakan oleh masyarakat umum,” pungkasnya.

Puguh menilai pengawasan distribusi nitrous oxide, khususnya di sektor pangan, perlu diperketat untuk mencegah penyalahgunaan yang semakin meluas di kalangan generasi muda.(prg,wur)