Kulon Progo suarapasar.com : Cuaca ekstrem hujan dengan intensitas tinggi akhir-akhir ini berdampak pada penurunan produksi cabai Pantai Kulon Progo (paku) di wilayah pesisir Kulon Progo.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Trenggono Trimulyo menjelaskan saat ini pertanian cabai pesisir Kulon Progo terutama di wilayah Kapanewon Galur dan Kapanewon Panjatan sedang dalam masa panen. Namun, omset petani menurun drastis karena produkso cabai menurun terdampak cuaca. Penurunan omset hampir mencapai 70 persen, atau tinggal sepertiga dari omset biasanya.
“Dampak cuaca ekstrem ada terutama cabai. Omset petani kita di pesisir menurun menjadi hanya sepertiganya saja. Omset itu di 11 pasar lelang cabai Paku tiap malam rata-rata Rp 1 milyar , sekarang ya tadi malam itu hanya sekitar 300-an juta,” terang Trenggono Trimulyo di Wates, Jumat (5/12/2025).
Dari sisi jumlah produksi cabai paku memang menurun karena dampak cuaca ekstrem hujan yang kerap terjadi.
“Biasanya produksinya hampir 27 ton per hari . Beberapa hari ini menurun. Tanggal 3 Desember hanya di kisaran 12 ton nilainya Rp 540-an juta. 4 Desember itu hanya 7, 3 ton nilainya Rp 352 juta,” urai Trenggono.
Terkait harga, diakui Trenggono, ada kenaikan harga yang cukup signifikan.
“Harganya lelang tadi malam terakhir ini untuk cabe rawit itu Rp 71.000 lebih per kg harga lelang. Cabai keriting Rp 47 ribu lebih sebelumnya Rp 40-41. Ini kenaikan harga kan karena cuaca produksi menurun , permintaan tetap otomaris harga naik,” imbuh Trenggono.
Seiring kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi sampai Januari, Trenggono optimis stok tetap tercukupi.
“Kalau di pantai produksi tetap ada biarpun ada penurunan. Insya Allah bisa terkendali lah,” katanya.
Sementara untuk komoditi pokok lain seperti beras, menurut Trenggono tidak ada masalah.
“Beras itu kita tidak ada masalah, tidak terdampak cuaca ekstrem. Wilayah Lendah segera panen lalu sampai akhir bulan itu yang dari daerah irigasi Sapon Lendah Galur Panjatan panen. Jadi aman,” pungkasnya. (wds/drw)








