Yogyakarta, suarapasar.com – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak boleh hanya disusun berdasarkan minat mahasiswa, tetapi harus dirancang sesuai kebutuhan dan potensi masyarakat setempat. Hal tersebut disampaikan Drs. Bambang Wahyu Nugroho, M.Si., dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dalam pembekalan KKN Gasal 2025/2026 di Gedung AR Fakhruddin A lantai 5, Rabu (17/9).
“Jangan programnya mengikuti ego kita. Misalnya senang bisnis online, lalu semua dipaksakan jadi pelatihan online marketing. Padahal masyarakat belum tentu butuh. Program harus menjawab kebutuhan nyata mereka,” tegas Bambang seperti dikutip dari laman Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Ia mencontohkan pengalamannya saat mendampingi desa yang penuh rumpun bambu. Selama ini warga hanya menjual bambu mentah seharga Rp4.000 per batang. Setelah dia mengajak warga mengolahnya menjadi iratan dan besek, nilai jual meningkat signifikan hingga Rp13.000 per kilogram iratan atau Rp7.000 per buah besek.
“Dari sekadar menjual bahan mentah, mereka bisa naik kelas menjadi sentra kerajinan,” jelasnya.
Bambang menambahkan, mahasiswa perlu menyusun program KKN dengan prinsip SMART (specific, measurable, achievable, realistic, time-bound) agar tujuan jelas, terukur, dan dapat dicapai. Ia juga mendorong mahasiswa untuk berani “memprovokasi” masyarakat dengan mimpi kolektif, misalnya menjadikan desa sebagai sentra kerajinan bambu dalam lima tahun ke depan.(prg,wur)







