Kulon Progo, suarapasar.com : Di era post truth sekarang ini, disaat penyebaran informasi tanpa batas, kebohongan yang terus dibagikan secara berulang-ulang, seolah-olah akan menjadi sebuah kebenaran di msyarakat. Hal itu menjadi ancaman serius bagi masyarakat dan bangsa karena belum semua masyarakat Indonesia memiliki kemampuan dan kecakapan literasi digital yang memadai.
Hal itu disampaikan Dr Anis Masruri SAg Ss Msi, Pengajar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saat menjadi narasumber Lokakarya Literasi Digital di Aula Kembangsoka Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kulon Progo, Rabu (21/5/2025).
“Masyarakat kita itu kan bermacam-macam ya. Ada yang memang mempunyai kemampuan literasi yang bagus, tapi ada yang tidak sama sekali. Yang ketika ada informasi yang masuk ke dalam genggaman mereka melalui gadgetnya itu langsung percaya mentah-mentah. Nah, itu bisa bahaya sekali,” tandas Dr Anis Masruri.
Melihat kondisi yang ada, upaya peningkatan literasi digital masyarakat secara massive harus terus dilakukan.
“Literasi bukan hanya pada informasi tapi pada digital sehingga mereka bisa menggunakan media itu dalam kehidupan sehari-hari dengan bijak dan beretika sehingga nyaman aman tanpa masalah. Ini penting karena di masa sekarang kita tidak bisa lagi menghindarkan diri dari dunia digital. Teknologi itu ada di mana-mana. Ada dalam kehidupan kita, rumah tangga, kehidupan bermasyarakat, kantor semuanya. Semua digital dalam bidang apapun kesehatan, pendidikan, perdagangan dan apapun itu semua serba digital,” urainya.
Dr Anis menilai perlunya masyarakat untuk tidak menerima mentah-mentah informasi yang diperoleh namun harus melakukan konfirmasi, pengecekan ke berbagai sumber terlebih dahulu.
“Jadi ketika ada informasi kita harus punya prasangka dulu, diam sebentar agar kita tidak langsung dengan emosi kita menerima atau menolak. Tapi kita perlu melakukan evaluasi dengan cara membuat komparasi karena informasi itu kan salurannya banyak. Jadi ketika kita mendapatkan saluran yang pertama, kita coba cari saluran yang lain, channel yang lain, misalnya bisa media mainstream juga, media mainstream juga sehingga kita bisa membuat satu perbandingan. Nah, ketika kita sudah bisa membuat perbandingan, maka kita bisa melakukan tindakan terhadap informasi yang ada. Apakah pro atau kontra?” paparnya.
Bijak dalam memanfaatkan media digital dengan senantiasa mengecek kebenaran informasi menjadi hal penting seiring kemudahan, kebebasan setiap orang dalam menyebarluaskan informasi di media sosial, media digitalnya. Sumber pembuat atau pemberi informasi juga harus diperhatikan.
“Karena informasi itu juga sekarang perlu diperhatikan otoritasnya. Otoritas dari siapa yang mengatakan informasi. Misalnya sekarang banyak sekali di medsos tentang informasi tentang kesehatan misalnya. Kita harus tahu dulu siapa yang bicara kesehatan itu meskipun dia mungkin pakaiannya pakaian putih ya seperti dokter tapi belum tentu informasi itu informasi yang memang tentang kesehatan secara benar. Bisa jadi dia adalah promotor ya mempromosikan ya produk-produk tertentu karena dibayar agar produk itu bisa menjadi laris dan sebagainya. Jadi kita memang harus melakukan kroscek apakah informasi bersumber pada sumber yang otoritatif atau tidak. Ini penting sekali,” tandasnya.

Lokakarya Literasi Digital juga menghadirkan narasumber Thoriq Tri Prabowo MIP PhD, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan materi Cakap Digital dan Keamanan Digital, dan Taufik Hidayanto SKom dari SMK Ma’arif 1 Wates dengan materi UU ITE dan Literasi Keuangan Digital Wates.
Sementara itu, Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kulon Progo Maryati mengatakan lokakarya Literasi Digital digelar dengan Alokasi DAK non fisik diikuti 50 peserta dari kategori masyarakat umum.
“Saat ini kam semua orang punya medsos hampir semua orang punya gadget, punya telepon seluler. Nah, ini kan memang masyarakat perlu dibekali agar melek digital. Artinya tidak hanya bisa menggunakan tetapi menggunakan dengan bijak, penuh tanggung jawab dan beretika begitu juga terkait keamanannya,” katanya.

Harapannya masyarakat tidak terjebak pada hal negatif yang banyak berkembang di dunia digital dan bisa memilah memanfaatkan hal positif dari perkembangan teknologi informasi.
“Ketika mereka literate tentu harapannya bisa memanfaatkan media sosial, dan beragam perkembangan teknologi informasi ini dengan baik bahkan memberi kontribusi positif bagi mereka,” pungkas Maryati. (Wds/drw)







